Langsung ke konten utama
Bendahara?
Sebutan untuk seorang relawan yang bersedia setulus hati memegang uang, mengelola dan mempertanggungjawabkan ke pihak terkait.


Kita sudah mengenalnya sejak kelas satu SD. Alhamdulillah, selama kelas 1 SD hingga kelas 1 SMA aku tidak pernah mencicipi bagaimana rasanya. Meski pada akhirnya di kelas 2 SMA aku dan teman semejaku ditunjung menjadi sepasang bendahara kelas yang tiap sabtu mau ga mau harus ngecengin semua temen kelas "menagih" khas Rp 1000,00 demi kemajuan kelas. Hahaha. Kalau dipikir-pikir ga santai juga sih dulu, saking ga santainya sampai ada yang melas dan sewot minta utang dulu karena uang sakunya hanya cukup buat jajan. Sebel-sebelnya mereka adalah ketika sadar ternyata udah banyak sekali menunda pembayaran😆 melihat catetan kita yang rentep ga ada utang yang ga dicatet😜 Tapi gara-gara itu aku jadi deket sama mereka sampai sekarang.


Berlanjut di dunia perkuliahan. Lagi-lagi aku mendapat mandat tuk menjadi bendahara. Ini sepertinya lebih serius, yang mana aku dikenalin sama sosok yang bernama SPJ(Surat Pertanggungjawaban). Banyak proses yang membelajarkan, sungguh. Yang sampai saat ini sangat membekas, JUJUR. Aku belajar banget dari proses itu tentang JUJUR. Well, aku menikmati segala tantangan membuat SPJ hingga aku mengenal betul dan memahami bagaimana maunya koor keuangan fakultas. Hal yang paling penting dan aku ingat dalam SPJ adalah notanya dijadiin satu. Jadi kalau kamu mau ngeprint biar notanya jadi satu ya berarti harus ngeprint di satu tempat, begitupun keperluan lainnya.


Periode kedua di organisasi kampus aku dipercaya oleh menkomku menjadi bendahara komite. Di sini akhirnya aku merasa bebas menggunakan prinsip. Aku tau posisi anggota jika dioyok-oyok uang khas komite dan organisasi. Akupun kadang sebagai anak kos agak seret. Jadi, prinsipku adalah meminimalkan anggaran yang dikeluarkan dari saku anggota. Caranya? Danusan😍. Dulu, hampir uang untuk proker dan uang khas diperoleh dari uang danus. Kita ga mengeluarkan uang khas sama sekali. Danus mulai dari arem-arem, tahu bakso, sus sampai notebook. Ada banyak cerita ketika danusan, di mana harus bagi2 tugas siapa yang harus ngambil, siapa yang harus mantau uang di kajur biar ga hilang secara misterius. Ah masa itu, jadi kangen. Ya, tapi sayangnya ada proker kami yang membutuhkan uang berjuta dan tidak masuk RAB, yang pada akhirnya menkomku dengan tulus hati mengeluarkan tabungannya. Salut. Dia ga pernah nagih ampe sekarang kepada kami, meskipun bgt tetep aja kita harus ganti. Harus. Intinya aku lebih seneng kalau di dalam organisasi kita meminimalisir narik-narikin uang dari anggota :3


Setelah itu aku menutup dunia keuangan di sebuah acara makrab keluarga baru prodi psikologi. Kebetulan dapet partner yang cucok banget kalau ngitung-ngitung dan gercep. Alhamdulillah, sistemnya masih sama. Satu nota. No manipulasi. Pengalaman harus membuat kita belajar dan berubah menjadi lebih baik. Di mandat terakhir ini meskipun terjadi kesalahan teknis, aku seneng karena lebih mudah menjalaninya. Lebih enak berkomunikasi dengan koor keuangan karena mengerti dengan apa yang dimau, meskipun waktu itu ada beberapa pihak yang meragukanku :') well, karena ridhoNya, uang akhirnya turun.


Bendahara.
Pikirkan prosesnya sebelum hasilnya. 😉  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rumah Pohon, Kebun Teh dan Basket

Sejak kapan kamu mengenal rumah pohon, kebun teh dan basket? Sejak ada film yang berjudul My Heart. Rachel, Farel dan Luna menjadi pemain utamanya. Yuki Kato memerankan Rachel dan Irshadi Bagas memerankan Farel. Jujur dulu aku tak begitu suka tokoh Luna, jadi nama pemerannya pun tidak ingat sampai sekarang, kecuali pemeran versi dewasa yaitu Acha.  Banyak hal yang kutiru di sana. OMG betapa besar efek film My Heart bagi diriku waktu itu. Kebetulan waktu kecil aku memang tomboy sekali. Hal itu membuat teman SD sering memadankan aku dengan tokoh Rachel. Aku mulai berimajinasi bahwa kota Bogor serindang yang diilustrasikan di dalam film. Persahabatan seindah yang diperankan. Bermain di kebun teh seasik di lakon film. Basket pun. Saat itu aku bermimpi bisa main ke Bogor mengunjungi danau dengan dua perahu yang dinaiki Rachel dan Farel, naik ke rumah pohon mereka trus main ke kebun teh yang dingin dan sejuk. Dulu entah mengapa pengin banget tinggal di Bogor. Iya, bermula dari...

Sepucuk Surat

Kau mungkin akan menulis isi yang berbeda dengan sepucuk surat satu tahun lalu. Iya, kau bukan kamu setahun yang lalu. Perasaan-perasaan yang kau jiwai dalam putik syair, kurasa tak berdaya lagi sekarang Tak apa, Allah tlah tentukan kenyataan terbaik.. Selalulah menempuh penerimaan terbaik :))) Selamat menempuh ibadah selanjutnya..

Dulu Begini, Sekarang Begitu

"Kamu yang DULU kalau (difoto selalu nutupin muka, kalau ga cuma mau difoto punggungnya, atau sok candid biar muka ga nampak semua) itu kan?" atau "Ih, apaansih kayanya kemaren mau-mau aja difoto, DPnya juga foto selfie, close up malah..sekarang kenapa ga masang foto selfie lagi? Itu kenapa foto2 di IG, FB jadi ga ada foto kamu sendirian, semuanya wefie kalau ga cuma foto nampak belakang doang?" Mungkin ini bakalan ngejleb banget apalagi kalau yang baca adalah anak rohis atau alumni rohis yang bermetamorphosa di jalannya masing-masing :') Gengs, itu bukan sesempit memperbincangkan masalah foto, lebih dalem dari itu. Nangkep ga? Itu sama kaya kekata, "Dulu berhijab sekarang tidak" dan lain-lain. Biarlah, tiap-tiap dari kita punya prosesnya masing-masing, punya prinsip sendiri-sendiri. Semoga kita termasuk manusia yang jalannya ke depan menjadi lebih baik dari yang dulu dan tetap istiqomah dalam kebaikan :') amin. No sebel atau kes...