Langsung ke konten utama

Sajak Cemburu

Skenario Allah selalu luar biasa
Alurnya tak pernah dusta
Meski ada suka dan duka
Konfliknya paham pada kemampuan manusia


Siapa yang yakin padaNya
Pasti kan tenang saja
Karena semua pasti punya jalan terbaik pada masanya
Tak perlu khawatir tentang bagaimana nasibnya
Siapa jodohnya
Tak perlu takut jika kehilangannya, berdewasa
Sejatinya cinta itu menerima,
Menerima takdirNya
Mensyukuri segala ketentuanNya
Memperindah segala tentangNya
Perintah dan laranganNya
Al-Qur'an dan As Sunnah-Nya


Hahaha


Kita ini perantau dunia
Suatu waktu jika Dia rindu pada kita
Daun yang bertuliskan nama
Akan beri pertanda
Dia akan meminta kita pulang ke negeri akhirat sana
Asal muasal kita
Kita harus pulang saat itu juga


RinduNya pada kita itu tiba-tiba
Maka tiba-tiba pula Dia memanggil nama kita, untuk pulang segera
Terkadang hal itu membuat kita tak sempat menyiapkan oleh-oleh dan bekal terbaik untukNya


Jadi, daripada bercemburu pada makhluknya
Akan lebih bermanfaat kalau kamu berkelana saja
Berkelana mempersiapkan bekal dan cindera mata
Siapa tau bisa dapat mahkota
Tuk dipersembahkan kepada orang tua


Jadi, daripada bercemburu pada makhluknya
Akan lebih bermanfaat kalau kamu bermuhasabah saja
Perbaiki dan perkuat iman dan takwa


Takutnya, Dia tiba-tiba rindu pada kita
ManusiaNya







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Bulan September

Rasa yang Menyiksa (gores pena: Galih Ratna Puri Palupi) Semua ini tentang cinta Tak jelas, namun menyesakkan dada Galau ingin bejumpa Rindu ingin bersua Namun bertemu memungkinkan aku tuk membungkam cerita Memilih diam menikmati alirannya Tapi dosa menjadi batasnya Hati pasrah menangis dibuatnya Semua tentang cinta Yang harus datang tepat pada waktunya Tapi tak kunjung diperjelaskan Mengundang harap dan tanya keraguan Terbersit dan mengalun di hati begitu saja Tak jelas kemana arahnya Pun tak memahami duka cita menjaga diri Ya, aku menjaganya Walau kering sudah kesabaran diri Untuk acuh dengan kabar tentangnya Ce i en te a Kau

Unfollow

Rasa-rasanya aku ingin sekali memencet tombol itu. Kemudian menitipkan nafasku kepada kamu yang didamba hadirnya Kepada kamu yang ingin lebih lama menjejak di bumi Rasa-rasanya aku ingin menekan tombol itu Lalu kutitipkan rasa cinta sepaket dengan ketulusannya, kesetiaan dan kesabaran menunggu.. Kepada ia yang kamu harapkan

Bebas

Untuk Dia yang Kuinginkan Gores pena: Galih Ratna Puri Palupi Di sudut dermaga Aku terjerembab dalam lembayung senja Erat dengan perahu-perahu yang lekat dengan jerat temalinya Di sudut, tempat ribuan kristal menyelinap dalam butiran pasir Tak sempat kunyatakan Tak mampu kuungkapkan Bunga-bunga hati yang menghiasi empunya Di kepalanya menjulur kain   hijau toska Tak pernah terlihat belaian demi belaian rambutnya Lembut ku lihat lengkungan senyumnya Membersamai bintang yang membias sinarnya Diantara samudera Di sudut dermaga Dia saksikan purnama dalam temaram Ditulis dengan pena kerinduannya Tuhan, pertemukan kami di SurgaMu -Surakarta, 21 Februari 2014-