Langsung ke konten utama

Bandar Rasa

 
Sebaiknya aku tahan dulu tirai-tirai yang lekat dengan jendela
Menahan sinar yang selalu paham akan dingin kepalaku, kini
Menahan tatapan mata yang masih menenggelamkan rasa ke dalam ruam
Kemudian, mengizinkan angin memasuki ventilasi kecil
Agar terasa hidup
Agar tidak mati
Kepada bandar rasa yang bersemayam di lubuk setiap manusia
Mulut yang bungkam rasanya ingin bercerita
Didengar oleh telinga kemudian dibalas dengan irama kata
Seperti selayaknya
Seperti seharusnya
Tidak hanya dibaca saja
Pun tidak hanya diabaikan saja

Kepada bandar rasa yang bersemayam di lubuk hatiku dan hatinya
Kenalkanlah diaku dengan rasa yang seharusnya
Atau pertemukan harapannya dan harapanku dalam ramuan rasamu
Hingga mampu membuat kami bijaksana

Masih tak sanggupku membuka jendela
Tirainya masih tertahan
Inginku kembalikan saja rindu, cita dan cinta yang tlah kutabung,
Atau kubebaskan mereka berkelana
Kulepas saja yang selama ini kujaga
Bukankah tak akan berdampak apa apa pada dia?
Biar mereka sendiri yang berbicara kepadanya
Pada seseorang yang takkan pernah membuatku membukakan pintu
Untuk seseorang yang lain
 
Bogor, 30 Juli 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Duhai, tahukah kamu?

Bahwa sebagian besar wanita itu pencemburu. Tidak penting nantinya 'kamu' dengan siapa. Yang terpenting adalah aku menyemogakan dirimu agar suatu saat nanti jika telah ada yang mendampingi, kau mengerti bagaimana cara menjaga hatinya. Duhai, pahamkah dirimu? Betapa tegarnya seorang wanita yang tersenyum Saat seorang yang dicintainya bercengkrama dengan 'teman'nya Saat seorang yang dicintainya menceritakan seorang perempuan selain ibunya Duhai, mau mengertikah kamu? Betapa teguhnya perasaan wanita Saat ia memahami, dirinya tak diperjuangkan Namun masih berusaha untuk menjaga hati Adamnya

Matematika Kehidupan

Sejak kecil sebelum rumus matematika semakin kompleks, kita dikenalkan lebih dulu dengan ping para lan suda (kali, bagi, tambah, kurang) Saat aku punya dua apel, apel itu akan habis pabila kubagikan kepada dua orang temenku. 2-2 = 0. Tapi. Sebentar. Bukankah 2-2=2? 2 dari mana? Dari pahala yang Allah berikan, insyaAllah Eh tapi jangan pakai rumus ini ya kalau lagi ngerjain soal matematika di sekolah.

Hai, Apa Kabar?

Hai, apa kabar yang sudah lama tak jumpa? Apa kabar yang sudah enggan menyapaku? Eh, atau aku yang enggan menyapa. Maafkan aku. Jika kamu rasa ada yang berbeda denganku. Bertahan atau pergi, adalah hak. Pun, aku takkan memaksamu bertahan, jika dirasa tidak nyaman. Di sebuah relasi yang membuatku asing, tak tau menau disaat yang lain diberi tau, sungguh membuatku jadi lebih enggan. Eh tapi itu hanya enggan. Aku akan tetap bertahan, setidaknya dipertemuan antara mataku dan pergantian malam, namamu selalu kudoakan. Maafkan aku. Jika tak lagi selalu ada. Menyambut hari² pentingmu. Yang jelas, aku selalu senang setiap tahu bahwa kamu dan keluargamu sehat.  Maafkan aku. Belum banyak mengirimkan banyak hadiah. Tapi yakinlah, bahwa itu bukan satu²nya simbolis tuk menandakan rasa sayangku. Semoga kabarmu baik² saja. Aku di sini sedang mencukupkan diri. Sedang memenuhi diri. Suatu saat, rasanya ingin kembali lagi bercengkrama seperti dulu. Jika masih diizinkan masuk.