Langsung ke konten utama

Orang Cuek yang (sok) Peduli #4 : Tentang Aku, Kamu dan Tuhan 1

"Tuhan kita dengan mereka itu berbeda, Nok. "


Aku selalu ingat dengan perkataan mas Qalis menyoal hal itu. Dia mendekteku banyak. Hal itulah yang terkadang semakin membuatku yakin, semua takkan bisa. Ada yang bilang kalau seusia kita itu belum waktunya memikirkan hal itu terkait aku dan Rey. Karena mungkin mereka tidak mengetahui gelisah-gelisah ini. Mungkin mereka tak gelisah, atau merasa bersalah padaNya.


Aku menyisir rambut yang masih tergerai. Sore ini latihan basket campur tim putra dan putri. Latihan mulai pukul 14.00. Aku berangkat dari rumah 13.55. Terlambat 15 menit. Pak Heru menghukumku dengan hukuman adat kita, lari 10 kali lapangan. Oemjiii~


"Semangat, Nay!!" Higa temen sekelas yang juga ikut ekskul basket teriak dari beskem tim putra. Dia merangkul rekannya. Siapa tuh? Asing. Iya, aku melihat wajah itu selama latihan basket. Rey? Iyakah?


"Kenapa Nay, kok muke lu daritadi ke arah sono mulu?" Naya.
"Itu si Rey, ya, Ay?" tanyaku.
"Iya, Higa ngajakin di ikutan ekskul. Jangan kegeeran."
"Wah, pas banget. Mau ngembaliin kaos kaki!!"
***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Duhai, tahukah kamu?

Bahwa sebagian besar wanita itu pencemburu. Tidak penting nantinya 'kamu' dengan siapa. Yang terpenting adalah aku menyemogakan dirimu agar suatu saat nanti jika telah ada yang mendampingi, kau mengerti bagaimana cara menjaga hatinya. Duhai, pahamkah dirimu? Betapa tegarnya seorang wanita yang tersenyum Saat seorang yang dicintainya bercengkrama dengan 'teman'nya Saat seorang yang dicintainya menceritakan seorang perempuan selain ibunya Duhai, mau mengertikah kamu? Betapa teguhnya perasaan wanita Saat ia memahami, dirinya tak diperjuangkan Namun masih berusaha untuk menjaga hati Adamnya

Matematika Kehidupan

Sejak kecil sebelum rumus matematika semakin kompleks, kita dikenalkan lebih dulu dengan ping para lan suda (kali, bagi, tambah, kurang) Saat aku punya dua apel, apel itu akan habis pabila kubagikan kepada dua orang temenku. 2-2 = 0. Tapi. Sebentar. Bukankah 2-2=2? 2 dari mana? Dari pahala yang Allah berikan, insyaAllah Eh tapi jangan pakai rumus ini ya kalau lagi ngerjain soal matematika di sekolah.

Hai, Apa Kabar?

Hai, apa kabar yang sudah lama tak jumpa? Apa kabar yang sudah enggan menyapaku? Eh, atau aku yang enggan menyapa. Maafkan aku. Jika kamu rasa ada yang berbeda denganku. Bertahan atau pergi, adalah hak. Pun, aku takkan memaksamu bertahan, jika dirasa tidak nyaman. Di sebuah relasi yang membuatku asing, tak tau menau disaat yang lain diberi tau, sungguh membuatku jadi lebih enggan. Eh tapi itu hanya enggan. Aku akan tetap bertahan, setidaknya dipertemuan antara mataku dan pergantian malam, namamu selalu kudoakan. Maafkan aku. Jika tak lagi selalu ada. Menyambut hari² pentingmu. Yang jelas, aku selalu senang setiap tahu bahwa kamu dan keluargamu sehat.  Maafkan aku. Belum banyak mengirimkan banyak hadiah. Tapi yakinlah, bahwa itu bukan satu²nya simbolis tuk menandakan rasa sayangku. Semoga kabarmu baik² saja. Aku di sini sedang mencukupkan diri. Sedang memenuhi diri. Suatu saat, rasanya ingin kembali lagi bercengkrama seperti dulu. Jika masih diizinkan masuk.