Langsung ke konten utama

Saat itu

Saat jilbab masih alakadarnya dan bisa dihitung
jilbab putih dan coklat (read: jilbab sekolah dan pramuka)
Saat jilbab masih sering meminjam milik ibu
Mengupayakan, yang penting bisa memakai jilbab sehari-hari

Saat rok masih satu, dua, tiga
Dan jilbab segi empat hanya punya satu
Itupun hadiah ulang tahun dari anak-anak IPA 4 

Saat itu pula, aku menyadari 
Hati itu mengikuti tekad 
Jika kamu merasa terpuruk,
Jika kamu merasa buruk buruk
Bukan hati yang kita andalkan terlebih dulu
Tekadlah!
Tekad untuk terus memperbaiki diri dan berubah!
Hati akan mengikuti tanpa dipinta
Karena hati itu memahami
 
Jangan menunggu hatimu baik, baru kamu berubah, 
Hati itu menyesuaikan niatmu

Dan, jangan merasa sendiri
SELALU ada teman untuk memperbaiki diri

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Bulan September

Rasa yang Menyiksa (gores pena: Galih Ratna Puri Palupi) Semua ini tentang cinta Tak jelas, namun menyesakkan dada Galau ingin bejumpa Rindu ingin bersua Namun bertemu memungkinkan aku tuk membungkam cerita Memilih diam menikmati alirannya Tapi dosa menjadi batasnya Hati pasrah menangis dibuatnya Semua tentang cinta Yang harus datang tepat pada waktunya Tapi tak kunjung diperjelaskan Mengundang harap dan tanya keraguan Terbersit dan mengalun di hati begitu saja Tak jelas kemana arahnya Pun tak memahami duka cita menjaga diri Ya, aku menjaganya Walau kering sudah kesabaran diri Untuk acuh dengan kabar tentangnya Ce i en te a Kau

Unfollow

Rasa-rasanya aku ingin sekali memencet tombol itu. Kemudian menitipkan nafasku kepada kamu yang didamba hadirnya Kepada kamu yang ingin lebih lama menjejak di bumi Rasa-rasanya aku ingin menekan tombol itu Lalu kutitipkan rasa cinta sepaket dengan ketulusannya, kesetiaan dan kesabaran menunggu.. Kepada ia yang kamu harapkan

Bebas

Untuk Dia yang Kuinginkan Gores pena: Galih Ratna Puri Palupi Di sudut dermaga Aku terjerembab dalam lembayung senja Erat dengan perahu-perahu yang lekat dengan jerat temalinya Di sudut, tempat ribuan kristal menyelinap dalam butiran pasir Tak sempat kunyatakan Tak mampu kuungkapkan Bunga-bunga hati yang menghiasi empunya Di kepalanya menjulur kain   hijau toska Tak pernah terlihat belaian demi belaian rambutnya Lembut ku lihat lengkungan senyumnya Membersamai bintang yang membias sinarnya Diantara samudera Di sudut dermaga Dia saksikan purnama dalam temaram Ditulis dengan pena kerinduannya Tuhan, pertemukan kami di SurgaMu -Surakarta, 21 Februari 2014-