Langsung ke konten utama

Kepada Tangkai dan Bunga tentang Aku

Bunga itu entah punya siapa
Kurasa bukan miliknya
Namun rekahannya biru menyala
Memegang biasan diri seseorang

Aku tak paham cahaya yang dilepaskan bias apakah akan saling memantul
Berbagi cerita tentang udara yang meniup keduanya
Mendinginkan kehangatan atau justru memudarkan warna ungu yang coba kulukis
Kusayat pada hatinya
NamaNya bersanding dengan nama seseorang itu
Aku tak paham apakah sinar itu saling memantul
Bunga itu entah punya siapa
Embun meresap dari putik ke akarnya
Wajahnya mewarnai tangkai yang sepi
Sepi, karena aku tak kunjung datang

Ah, setidaknya aku masih mampu berterimakasih
Karena telah menjadi nyawa sajak-sajakku
Sembari berharap-harap cemas
Agar tangkai itu tetap sepi
Menggugurkan bunga-bunganya
Setia
Hingga aku akhirnya tiba
Membersamai


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku mencintaimu karena Allah

Kepada teman baikku, semua tak terkecuali Satu hal yang sering kuimpi-impikan, melihat kita berkembang dan bertumbuh, membungkus perbekalan, hingga Allah SWT katakan cukup. Memerintah malaikat izrail tuk menjemput. Lalu impian selanjutnya untuk bertemu Rabb kita semakin dekat. Sesungguhnya, kuakui memang sulit meninggalkan cinta yang jadi fitrah kita. Sebagai aku yang tak pernah jauh dari perasaan itu, perlu proses panjang rasanya untuk tak ubahnya menasehati diri agar lebih sempurna dalam menyikapi cinta kepada makhluk. Pandai-pandai meluruskan niat dan mengembalikan segala kepadaNya. Pembuktian cinta kepada yang selalu mencintai kita tiada habisnya, sungguh panjang. Jangan pernah menyerah. Jangan pernah berhenti, meski harus merangkak.
Kulihat dari jauh, Matamu begitu sengit pada hujan Rintik demi rintik yang kau kira rindu itu, ternyata hanyalah pemudar senja Bibirmu bergerak, seakan mengeja ketakutan-ketakutan dalam diri Segenap keteguhanku seolah ingin menyambangimu Berbisik tentang gerangan yang tak kau relakan hilang "Tenanglah, Tuhan akan menjaga namamu dalam hatinya. Hujan takkan memudarkan namamu, ia akan membeningkan." Namun justru kau sendiri yang menjadi hujan dalam pikirmu. Memudarkannya.
Saringan Aku butuh saringan yang lebih lembut Agar lebih sedikit keburukan yang kulakukan Agar lebih mudah konsisten dengan hal-hal baik dan sesuai dengan ketentuanNya Untuk kuterapkan dalam hidupku