Langsung ke konten utama
Keluar. Aku mengarahkan kedua bola mata ke arah pintu kamar yang sedari tadi terbuka. Angin menyergap lembut ke sela-sela ruangan. Ada oksigen yang kuhirup perlahan. Aku mengeja namamu, kemudian iseng mengartikannya. Aku menggenggam rapat-rapat, menempelkan satu per satu hurufnya di sela jemari. Tersenyum, seolah akan ada dirimu di keabadian nanti. Aku berkali-kali tersenyum mengenang kekonyolanku di hadapanmu. Tidak, benar-benar tidak malu. Aku hanya tertawa mengenangnya, berharap tidak mengulang apa yang tak semestinya kuulangi. Kamu tak pernah menegurku barang sekali. Takutnya aku tak menyadari, bahwa kamu sedang berniat untuk pergi. Hatimu berbalik. Aku tak bisa menghirup oksigen-oksigen ini saat ku tau kamu benar-benar jauh, meninggalkan anak kecil ini dengan ketidakpastian itu. Bagaimana mungkin aku bisa menghirupnya? jika kamulah oksigen dariNya, untukku.

Sudah, ya, aku takut menangis.








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku mencintaimu karena Allah

Kepada teman baikku, semua tak terkecuali Satu hal yang sering kuimpi-impikan, melihat kita berkembang dan bertumbuh, membungkus perbekalan, hingga Allah SWT katakan cukup. Memerintah malaikat izrail tuk menjemput. Lalu impian selanjutnya untuk bertemu Rabb kita semakin dekat. Sesungguhnya, kuakui memang sulit meninggalkan cinta yang jadi fitrah kita. Sebagai aku yang tak pernah jauh dari perasaan itu, perlu proses panjang rasanya untuk tak ubahnya menasehati diri agar lebih sempurna dalam menyikapi cinta kepada makhluk. Pandai-pandai meluruskan niat dan mengembalikan segala kepadaNya. Pembuktian cinta kepada yang selalu mencintai kita tiada habisnya, sungguh panjang. Jangan pernah menyerah. Jangan pernah berhenti, meski harus merangkak.
Kulihat dari jauh, Matamu begitu sengit pada hujan Rintik demi rintik yang kau kira rindu itu, ternyata hanyalah pemudar senja Bibirmu bergerak, seakan mengeja ketakutan-ketakutan dalam diri Segenap keteguhanku seolah ingin menyambangimu Berbisik tentang gerangan yang tak kau relakan hilang "Tenanglah, Tuhan akan menjaga namamu dalam hatinya. Hujan takkan memudarkan namamu, ia akan membeningkan." Namun justru kau sendiri yang menjadi hujan dalam pikirmu. Memudarkannya.
Saringan Aku butuh saringan yang lebih lembut Agar lebih sedikit keburukan yang kulakukan Agar lebih mudah konsisten dengan hal-hal baik dan sesuai dengan ketentuanNya Untuk kuterapkan dalam hidupku