Langsung ke konten utama

Iqra

Terbangun kemudian terlelap lagi
Menatap langit tak berdaya
Tak tergerak sedikitpun dengan arus angin yang sedari tadi menghempas tubuh kuat-kuat
Mata menguntai sayup lesu
Jiwa tak kuasa memangku tubuh


Tidak.
Semua masih sebaik yang kukira.
Burung masih riang berkicau
Sayapnya malu-malu terbang menghadap dua mata bolaku
Ragu-ragu melihat senyumku
Sesekali aku berkaca di mata kecil itu
Pucat


Tetiba ia menunjukkan sebuah sarang kecil
Di ranting yang mereka sebut penghidupan
Salah satu menjelaskan padaku
Iqra
Kemudian kumerasa Engkau hadir
Tenang


Mereka bilang saat masing-masing tlah jauh dari peraduan ruhnya
Jangan pernah ragu bersiap untuk kembali



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Bulan September

Rasa yang Menyiksa (gores pena: Galih Ratna Puri Palupi) Semua ini tentang cinta Tak jelas, namun menyesakkan dada Galau ingin bejumpa Rindu ingin bersua Namun bertemu memungkinkan aku tuk membungkam cerita Memilih diam menikmati alirannya Tapi dosa menjadi batasnya Hati pasrah menangis dibuatnya Semua tentang cinta Yang harus datang tepat pada waktunya Tapi tak kunjung diperjelaskan Mengundang harap dan tanya keraguan Terbersit dan mengalun di hati begitu saja Tak jelas kemana arahnya Pun tak memahami duka cita menjaga diri Ya, aku menjaganya Walau kering sudah kesabaran diri Untuk acuh dengan kabar tentangnya Ce i en te a Kau

Unfollow

Rasa-rasanya aku ingin sekali memencet tombol itu. Kemudian menitipkan nafasku kepada kamu yang didamba hadirnya Kepada kamu yang ingin lebih lama menjejak di bumi Rasa-rasanya aku ingin menekan tombol itu Lalu kutitipkan rasa cinta sepaket dengan ketulusannya, kesetiaan dan kesabaran menunggu.. Kepada ia yang kamu harapkan

Bebas

Untuk Dia yang Kuinginkan Gores pena: Galih Ratna Puri Palupi Di sudut dermaga Aku terjerembab dalam lembayung senja Erat dengan perahu-perahu yang lekat dengan jerat temalinya Di sudut, tempat ribuan kristal menyelinap dalam butiran pasir Tak sempat kunyatakan Tak mampu kuungkapkan Bunga-bunga hati yang menghiasi empunya Di kepalanya menjulur kain   hijau toska Tak pernah terlihat belaian demi belaian rambutnya Lembut ku lihat lengkungan senyumnya Membersamai bintang yang membias sinarnya Diantara samudera Di sudut dermaga Dia saksikan purnama dalam temaram Ditulis dengan pena kerinduannya Tuhan, pertemukan kami di SurgaMu -Surakarta, 21 Februari 2014-