Langsung ke konten utama

Bertemu denganmu, lagi

Sudah lama.  Tepatnya satu tahun yang lalu. Dua Januari 2014, hingga menjelang masuk kuliah.
Ibu menjanjikan aku sesuatu yang mungkin sama sekali belum terbenak dalam ingin. Beliau memintaku untuk melibatkannya sementara waktu sebelum ia benar-benar nyata.

Hari ini, seperti setahun lalu, beliau memintaku untuk berkenalan lebih dalam dengannya. Tentu saja aku melakukannya. Kamis, 21 Januari 2016. Karena sudah lama tak bertemu, wajar saja timbul simpul kekakuan.

"Sakjane wes iso lho, mbak. Mung kurang kerep le latihan!" Berulangkali seseorang berkata dan berkeyakinan bahwa aku mampu. Maka saat itu juga aku merasa mampu dan dimampukan oleh kekata yang Tuhan kirimkan melaluinya.

Syukurlah, semoga dapat membahagiakanmu, Ibu.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Bulan September

Rasa yang Menyiksa (gores pena: Galih Ratna Puri Palupi) Semua ini tentang cinta Tak jelas, namun menyesakkan dada Galau ingin bejumpa Rindu ingin bersua Namun bertemu memungkinkan aku tuk membungkam cerita Memilih diam menikmati alirannya Tapi dosa menjadi batasnya Hati pasrah menangis dibuatnya Semua tentang cinta Yang harus datang tepat pada waktunya Tapi tak kunjung diperjelaskan Mengundang harap dan tanya keraguan Terbersit dan mengalun di hati begitu saja Tak jelas kemana arahnya Pun tak memahami duka cita menjaga diri Ya, aku menjaganya Walau kering sudah kesabaran diri Untuk acuh dengan kabar tentangnya Ce i en te a Kau

Unfollow

Rasa-rasanya aku ingin sekali memencet tombol itu. Kemudian menitipkan nafasku kepada kamu yang didamba hadirnya Kepada kamu yang ingin lebih lama menjejak di bumi Rasa-rasanya aku ingin menekan tombol itu Lalu kutitipkan rasa cinta sepaket dengan ketulusannya, kesetiaan dan kesabaran menunggu.. Kepada ia yang kamu harapkan

Bebas

Untuk Dia yang Kuinginkan Gores pena: Galih Ratna Puri Palupi Di sudut dermaga Aku terjerembab dalam lembayung senja Erat dengan perahu-perahu yang lekat dengan jerat temalinya Di sudut, tempat ribuan kristal menyelinap dalam butiran pasir Tak sempat kunyatakan Tak mampu kuungkapkan Bunga-bunga hati yang menghiasi empunya Di kepalanya menjulur kain   hijau toska Tak pernah terlihat belaian demi belaian rambutnya Lembut ku lihat lengkungan senyumnya Membersamai bintang yang membias sinarnya Diantara samudera Di sudut dermaga Dia saksikan purnama dalam temaram Ditulis dengan pena kerinduannya Tuhan, pertemukan kami di SurgaMu -Surakarta, 21 Februari 2014-