Langsung ke konten utama

Cerita Pembunuhan

Beberapa hari ini sosial media sedang diributkan oleh kasus pembunuhan sekeluarga yang terjadi di Medan.

Bukan.  Saya bukan ingin bercerita tentang itu di pos ini. 

Jadi berita tersebut mengingatkanku tentang kejadian sepuluh tahun yang lalu. Yups,  2007. Suasana yang belum lepas dari kejadian Gempa Bumi Bantul.  Hampir 50% rumah-rumah di dusunku roboh dan rusak parah, dari mulai dindingnya retak sampai yang ambruk sebagian. Melihat hal itu para dermawanpun datang mengirimkan bala bantuan berupa tenda,  obat-obatan,  makanan, dan jasa kesehatan.  Pemerintah juga memberikan bantuan berupa alat-alat konstruksi rumah seperti bambu,  angkong, semen dan uang untuk biaya membangun.  Namun,  bantuan tersebut hanya dibagikan untuk warga yang memenuhi kriteria salah satunya kondisi rumahnya rusak berat dan roboh.

Kebetulan saat itu ayah masih menjabat sebagai ketua RT, sehingga beliau terlibat dalam mengurus pembagian bantuan tersebut. Tentu saja untuk menentukan siapa yang berhak menerima bantuan adalah hal yang tidak mudah dan besar risikonya.  Karna pasti akan ada yang terima dan tidak terima. 

Dan hal itu benar sekali terjadi.  Ada seorang warga yang protes kepada Bapak,  mengapa rumahnya tidak mendapatkan bantuan?

Dia beberapa kali datang kerumah mencari bapak.  Aku sempat melihat mereka bercakap-cakap di siang hari.  Dia merangkul bapakku entah sedang berbisik apa.  Di rumah hanya ada aku,  mbak dan bapak.  Waktu itu ibu masih ngajar dan kakak laki-lakiku di kos-kosan. 
Bapak sudah menjelaskan beberapa kali.  Namun dia tidak jua memahami.  Dampaknya dia berontak dengan memberikan ancaman akan membunuh bapak.  Saat itulah keluargaku merasa sangat tidak nyaman.  Aku yang biasanya bebas bermain kapan saja dan di mana saja termasuk di wilayah tempat tinggal orang itu,  saat itu menjadi dibatasi.  Padahal,  depan rumah orang itu banyak sekali anak-anak kecil seusiaku bermain egrang,  kelereng,  gulgulan dan pongpongan.  Tempatnya terbuka,  lapang, dan teduh karena banyak dikelilingi pohon dan dekat dengan sawah.  Aku tidak bisa main ke situ lagi,  selain dilarang aku juga takut.  Teman-temanku yang sebagian besar laki2 waktu itu bertanya kenapa?  Namun,  Galih kecil waktu itu tidak menceritakan apapun.  Hanya bilang ingin main pasaran di rumah saja. 

Ayahku memiliki amanah di SMA daerah Bantul.  Kebetulan rute keberangkatan beliau mau tak mau harus melewati jalan yang tak jauh dari rumah warga yang tadi kuceritakan sebut saja X.  Ayahku tidak menggubris,  beliau tidak takut dengan ancaman tersebut.  Ayah menyerahkan semuanya kepada Tuhan.  X sempat memperingatkan kepada ayah untuk berhati-hati jika lewat sekitar rumahnya.  Dia akan bersembunyi di suatu tempat yang dilewati ayah,  kemudian akan memukulnya dari belakang dengan kayu yang bagian atasnya dipasang paku-paku tajam.  Aku merinding dan takut sekali mendengarnya.  Keberadaan X membuatki pribadi sangat tidak nyaman.  Aku takut kehilangan bapak.

Singkat cerita.  Di suatu malam,  sekitar jam 02.30 ada seseorang mengetuk pontu rumahku.  Ayah hampir membukanya sebelum ibu bilang "Jangan dibuka,  masak jam segini ada tamu."

Ya Allah,  untung cendela di rumahku semua ditralis, jadi aman dan tidak mudah dibobol. 

Orang itu masih menggedor.  Dan beberapa menit kemudian berhenti.

Kemudian,  dikondisi yang sama rekan kerja ayahku telpon.  "Pak,  jangan keluar-keluar rumah,  karena ada seseorang bersembunyi di bawah kursi depan pintu rumah bapak, dia sedang membawa pedang samurai. "

Aku masih bisa membayangkan bagaimana rasanya waktu itu.  Takuuuuut sekali,  meskipun cendela dan pintunya aman,  tetap saja banyak kemungkinan terjadi. 

Sejak ayah menerima telpon dari temannya,  beliau kembali ke kamar.  Tidur. 

Dan pagi hari alhamdulillah kondisi telah aman.  Ibu sempat melihat ke luar dari jendela.  Tidak ada apapun. 

Alhamdulillah 'ala kulli haal
Segala puji bagi Allah di setiap keadaan.

Kemudian setelah hari itu terlalui.  Kami sekeluarga mendengar cerita dari tetangga bahwa siang kemarin sebelum kejadian malam itu,  si X main ke rumah tetangga untuk meminjam pedang samurai.  Dia tidak bercerita untuk apa.

Kemudian,  kami sekeluarga barulah berkata bahwa apa yang dikatakan teman ayah semalam benar. 

Itulah hal yang paling menegangkan bagi keluargaku. 

Sekarang,  ketika aku dan ibu mengingatnya,  kami selalu berkata. "Untung ayah tidak membukakan pintu ya,  Bu.  Kalau iya pasti nasib kita sama seperti berita tersebut. "

"Allah selalu melindungi orang-orang yang baik, Nok. " balas ibu. 

Semoga teman-teman sekeluarga selalu dalam lindunganNya dan tidak mengalami hal yang sama seperti keluargaku. Amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Duhai, tahukah kamu?

Bahwa sebagian besar wanita itu pencemburu. Tidak penting nantinya 'kamu' dengan siapa. Yang terpenting adalah aku menyemogakan dirimu agar suatu saat nanti jika telah ada yang mendampingi, kau mengerti bagaimana cara menjaga hatinya. Duhai, pahamkah dirimu? Betapa tegarnya seorang wanita yang tersenyum Saat seorang yang dicintainya bercengkrama dengan 'teman'nya Saat seorang yang dicintainya menceritakan seorang perempuan selain ibunya Duhai, mau mengertikah kamu? Betapa teguhnya perasaan wanita Saat ia memahami, dirinya tak diperjuangkan Namun masih berusaha untuk menjaga hati Adamnya

Matematika Kehidupan

Sejak kecil sebelum rumus matematika semakin kompleks, kita dikenalkan lebih dulu dengan ping para lan suda (kali, bagi, tambah, kurang) Saat aku punya dua apel, apel itu akan habis pabila kubagikan kepada dua orang temenku. 2-2 = 0. Tapi. Sebentar. Bukankah 2-2=2? 2 dari mana? Dari pahala yang Allah berikan, insyaAllah Eh tapi jangan pakai rumus ini ya kalau lagi ngerjain soal matematika di sekolah.

Hai, Apa Kabar?

Hai, apa kabar yang sudah lama tak jumpa? Apa kabar yang sudah enggan menyapaku? Eh, atau aku yang enggan menyapa. Maafkan aku. Jika kamu rasa ada yang berbeda denganku. Bertahan atau pergi, adalah hak. Pun, aku takkan memaksamu bertahan, jika dirasa tidak nyaman. Di sebuah relasi yang membuatku asing, tak tau menau disaat yang lain diberi tau, sungguh membuatku jadi lebih enggan. Eh tapi itu hanya enggan. Aku akan tetap bertahan, setidaknya dipertemuan antara mataku dan pergantian malam, namamu selalu kudoakan. Maafkan aku. Jika tak lagi selalu ada. Menyambut hari² pentingmu. Yang jelas, aku selalu senang setiap tahu bahwa kamu dan keluargamu sehat.  Maafkan aku. Belum banyak mengirimkan banyak hadiah. Tapi yakinlah, bahwa itu bukan satu²nya simbolis tuk menandakan rasa sayangku. Semoga kabarmu baik² saja. Aku di sini sedang mencukupkan diri. Sedang memenuhi diri. Suatu saat, rasanya ingin kembali lagi bercengkrama seperti dulu. Jika masih diizinkan masuk.