Langsung ke konten utama

Fiksi: Sejenak Hening

Hujan jatuh di atas jalanan kota Solo. Derasnya membendung suasana temaram, aku suka nuansa ini.  Semenit yang lalu aku baru saja keluar dari kos Kepatihan Putri, hingga akhirnnya sampai di perempatan Sekarpace menuju arah belakang kampus. Saat lampu hijau menyala, rasanya aku ingin memutar arah. Berbalik arah menuju stasiun kemudian membeli tiket ke Jogja. Hahahaha, untungnya aku tidak seimpulsive itu. Aku terus berjalan menuju belakang kampus sembari menyembunyikan air mataku di balik hujan yang bersamaan mengalir di pipi. 

Biasanya aku ke Kentingan hanya untuk beberapa urusan, membeli susu di kedai Mbok Sri, makan, membeli sesuatu dan main ke kosan teman. Namun saat ini, aku hanya ingin menuju dan melewati suatu tempat. Nurul Huda berlanjut ke arah depan Rektorat melewati bukit Kendil yang katanya angker itu. Kampus UNS jam 19.30 sudah lumayan sepi. Hanya ada satu motor di belakang, itupun nyalip, sampai aku benar-benar sendirian menyusuri jalanan menuju Rektorat. Aku mengurangi kecepatan motorku saat melewati halamannya. Mencoba berdaya di depan kalutnya temaram yang hening.

Jika Tuhan selalu mempertemukan kita dengan hal-hal yang menyenangkan bagi diri, lalu apa artinya Surga?
Saat itu, aku belajar mencintai hal-hal yang paling tidak kusukai dalam hidup ini. 

Setelah menikmati suasana temaram lampu di depan rektorat aku menuju gerbang depan kampus. Aku tiba tepat saat lampu merah.
"Ge, ini pakai mantrolku. Atau setidaknya jaketku. Kamu basah kuyup." seseorang yang kukenal menyapaku.
"Tidak usah. Kita kan udah jarang ketemu di kampus, nanti susah ngembaliinnya." jawabku.

Dia melepas jaketnya, kemudian menyampirkannya di atas spion motorku tepat saat lampu hijau. Dan berjalan pergi.
"Dipakai aja, Ge. Gampang ngembaliinnya."

Sejujurnya, aku telah merasa kehilangan orang itu berminggu-minggu yang lalu. Saat dia menuliskan nama seseorang dalam tulisannya. Hal yang tidak wajar bagiku. Dan aku menemukannya kembali, dengan tatapan yang masih sama.

Setelah hujan memang langit akan melengkungkan pelangi. Tapi, kamu harus tau, hal itu tidak selalu terjadi. Tuhan hanya mengirimkannya di waktu-waktu tertentu. Namun tak ada salahnya, untuk selalu yakin padaNya setiap hari, tentang apapun yang kan terjadi dalam hidup ini. Kehilangan, kebersamaan, keceriaan, kesedihan, kebahagiaan, kesalahan, dan kepastian, semua adalah hal yang harus kita cintai dan syukuri.















Komentar

Postingan populer dari blog ini

Duhai, tahukah kamu?

Bahwa sebagian besar wanita itu pencemburu. Tidak penting nantinya 'kamu' dengan siapa. Yang terpenting adalah aku menyemogakan dirimu agar suatu saat nanti jika telah ada yang mendampingi, kau mengerti bagaimana cara menjaga hatinya. Duhai, pahamkah dirimu? Betapa tegarnya seorang wanita yang tersenyum Saat seorang yang dicintainya bercengkrama dengan 'teman'nya Saat seorang yang dicintainya menceritakan seorang perempuan selain ibunya Duhai, mau mengertikah kamu? Betapa teguhnya perasaan wanita Saat ia memahami, dirinya tak diperjuangkan Namun masih berusaha untuk menjaga hati Adamnya

Matematika Kehidupan

Sejak kecil sebelum rumus matematika semakin kompleks, kita dikenalkan lebih dulu dengan ping para lan suda (kali, bagi, tambah, kurang) Saat aku punya dua apel, apel itu akan habis pabila kubagikan kepada dua orang temenku. 2-2 = 0. Tapi. Sebentar. Bukankah 2-2=2? 2 dari mana? Dari pahala yang Allah berikan, insyaAllah Eh tapi jangan pakai rumus ini ya kalau lagi ngerjain soal matematika di sekolah.

Hai, Apa Kabar?

Hai, apa kabar yang sudah lama tak jumpa? Apa kabar yang sudah enggan menyapaku? Eh, atau aku yang enggan menyapa. Maafkan aku. Jika kamu rasa ada yang berbeda denganku. Bertahan atau pergi, adalah hak. Pun, aku takkan memaksamu bertahan, jika dirasa tidak nyaman. Di sebuah relasi yang membuatku asing, tak tau menau disaat yang lain diberi tau, sungguh membuatku jadi lebih enggan. Eh tapi itu hanya enggan. Aku akan tetap bertahan, setidaknya dipertemuan antara mataku dan pergantian malam, namamu selalu kudoakan. Maafkan aku. Jika tak lagi selalu ada. Menyambut hari² pentingmu. Yang jelas, aku selalu senang setiap tahu bahwa kamu dan keluargamu sehat.  Maafkan aku. Belum banyak mengirimkan banyak hadiah. Tapi yakinlah, bahwa itu bukan satu²nya simbolis tuk menandakan rasa sayangku. Semoga kabarmu baik² saja. Aku di sini sedang mencukupkan diri. Sedang memenuhi diri. Suatu saat, rasanya ingin kembali lagi bercengkrama seperti dulu. Jika masih diizinkan masuk.