Langsung ke konten utama

Hadiah untuk November



Duhai, Rasa Cinta: Bersabarlah

“Bay, kamu ga ke kantin dulu?” Sapaku kepada Bayu.
Bayu adalah teman kecilku. Kulitnya sawo matang, rambutnya lurus, perawakannya sedang tidak tinggi tidak pendek. Sama sepertiku, bedanya hanyalah pada perawakan dan nama kami saja. Tingginya sedang sementara diriku pendek. Aku Esa, sedangkan dia Bayu. Rumah kami juga berdekatan. Selain itu kami sama-sama anak ke lima dari enam bersaudara. Sejak kecil kedua orang tua kami bersahabat. Dunia persahabatan mereka meregenerasi pada kami.
Belakangan ini sikap Bayu tidak seperti biasanya. Ia menghindar jauh dariku. Bagaimana aku tidak merasa kehilangan?
***
Desa Kemuning dibungkus oleh perkebunan teh yang terbentang luas di kanan kiri jalan. Daun teh di setiap tangkai tanamannya menuang kehangatan dalam dingin. Embun timbul di atasnya dan merekamku yang sedang berjalan mendekat. Akulah yang konon bilang kepada Ibu, “Aku mencintai pagi.”  Hal yang membuatku tak segan melipat selimut di pagi buta, dan membantu ibu menyiapkan pacitan untuk para petani. 

..........................

Tunggu kelanjutannya ya :D
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Bulan September

Rasa yang Menyiksa (gores pena: Galih Ratna Puri Palupi) Semua ini tentang cinta Tak jelas, namun menyesakkan dada Galau ingin bejumpa Rindu ingin bersua Namun bertemu memungkinkan aku tuk membungkam cerita Memilih diam menikmati alirannya Tapi dosa menjadi batasnya Hati pasrah menangis dibuatnya Semua tentang cinta Yang harus datang tepat pada waktunya Tapi tak kunjung diperjelaskan Mengundang harap dan tanya keraguan Terbersit dan mengalun di hati begitu saja Tak jelas kemana arahnya Pun tak memahami duka cita menjaga diri Ya, aku menjaganya Walau kering sudah kesabaran diri Untuk acuh dengan kabar tentangnya Ce i en te a Kau

Unfollow

Rasa-rasanya aku ingin sekali memencet tombol itu. Kemudian menitipkan nafasku kepada kamu yang didamba hadirnya Kepada kamu yang ingin lebih lama menjejak di bumi Rasa-rasanya aku ingin menekan tombol itu Lalu kutitipkan rasa cinta sepaket dengan ketulusannya, kesetiaan dan kesabaran menunggu.. Kepada ia yang kamu harapkan

Bebas

Untuk Dia yang Kuinginkan Gores pena: Galih Ratna Puri Palupi Di sudut dermaga Aku terjerembab dalam lembayung senja Erat dengan perahu-perahu yang lekat dengan jerat temalinya Di sudut, tempat ribuan kristal menyelinap dalam butiran pasir Tak sempat kunyatakan Tak mampu kuungkapkan Bunga-bunga hati yang menghiasi empunya Di kepalanya menjulur kain   hijau toska Tak pernah terlihat belaian demi belaian rambutnya Lembut ku lihat lengkungan senyumnya Membersamai bintang yang membias sinarnya Diantara samudera Di sudut dermaga Dia saksikan purnama dalam temaram Ditulis dengan pena kerinduannya Tuhan, pertemukan kami di SurgaMu -Surakarta, 21 Februari 2014-