Langsung ke konten utama
Penguat itu adalah dia yang mampu membuat dirinya hadir saat sebelumnya sungguh tak berpikir ingin hadir.

Siapa yang ingin setiap harinya ditanyai tentang pekerjaan-pekerjaan dan pekerjaan. Diingatkan tentang pekerjaannya. Diminta untuk menelisir kata kerja. Tentu sebagian besar akan menjawab tidak ingin. Karena itu melelahkan sekali. Seseorang harus punya waktu untuk beristirahat. Setidaknya menjeda sejenak untuk memikirkan dan melakukan hal-hal yang ringan dan dia sukai. 
Tapi tidak semua sependapat dengan itu. Bagi kaum profesional, banyaknya amanah yang telah diterima berbanding lurus dengan kesadaran akan konsekuensinya. Jarang ada yang menimbang bagaimana kondisi tubuh,pikiran dan apa yang dibutuh serta apa yang sedang diingin. Jarang ada yang memahami bagaimana beban kerja dan seberapa banyak hal yang harus dilakukannya, sebelum hadir 'permintaan'. Wajar jika ada beberapa orang yang mencari 'rumah'. Tempat yang tenang dan nyaman. Atau menghilang, mengizinkan para penanya menemukan jawabannya sendiri. 

Maka terimakasih kepada para penguat yang tidak pernah bertanya, "Kalau aku pergi, siapa yang menguatkanmu?"




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku mencintaimu karena Allah

Kepada teman baikku, semua tak terkecuali Satu hal yang sering kuimpi-impikan, melihat kita berkembang dan bertumbuh, membungkus perbekalan, hingga Allah SWT katakan cukup. Memerintah malaikat izrail tuk menjemput. Lalu impian selanjutnya untuk bertemu Rabb kita semakin dekat. Sesungguhnya, kuakui memang sulit meninggalkan cinta yang jadi fitrah kita. Sebagai aku yang tak pernah jauh dari perasaan itu, perlu proses panjang rasanya untuk tak ubahnya menasehati diri agar lebih sempurna dalam menyikapi cinta kepada makhluk. Pandai-pandai meluruskan niat dan mengembalikan segala kepadaNya. Pembuktian cinta kepada yang selalu mencintai kita tiada habisnya, sungguh panjang. Jangan pernah menyerah. Jangan pernah berhenti, meski harus merangkak.
Kulihat dari jauh, Matamu begitu sengit pada hujan Rintik demi rintik yang kau kira rindu itu, ternyata hanyalah pemudar senja Bibirmu bergerak, seakan mengeja ketakutan-ketakutan dalam diri Segenap keteguhanku seolah ingin menyambangimu Berbisik tentang gerangan yang tak kau relakan hilang "Tenanglah, Tuhan akan menjaga namamu dalam hatinya. Hujan takkan memudarkan namamu, ia akan membeningkan." Namun justru kau sendiri yang menjadi hujan dalam pikirmu. Memudarkannya.
Saringan Aku butuh saringan yang lebih lembut Agar lebih sedikit keburukan yang kulakukan Agar lebih mudah konsisten dengan hal-hal baik dan sesuai dengan ketentuanNya Untuk kuterapkan dalam hidupku