Langsung ke konten utama

Di Angka ke Sebelas

Rayakanlah hari mu pada angka ini

Kau tak berhasil menangkap senyuman merah jambu
Yang saat kau ada, senyuman itu semakin memerah dan mengembang
Kau tak sadar siapa dirimu di mataku
Kau pun tak bertanya
Kau tak berhasil merasakan bahagia yang kurasakan,
Tak pula mampu mengerti caraku memaknai hadirmu
Kau tak berhasil memahami bahwa kau berharga, bagiku 

Kau,
Kau tak perlu memaksa diri tuk mengosongkan bagian dari hatimu untuk mengusahakan keberhasilan itu
Relakan saja aku hidup bersama makna yang barangkali jika kau tau, kau akan meluruskannya
Biarkan saja aku menemukan jawaban tentang segala tentangmu sendiri
Terima saja jika suatu waktu aku menyadari ketidakberadaanku di hatimu

Rayakanlah harimu pada angka ini,
Kau telah berhasil membuatku percaya,
Bahwa aku tak ada lagi

Pergilah,
Tak usah kau pikirkan lagi apa yang telah terjadi
Perasaanmu
Perasaanku
Akan menemukan cintanya sendiri

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Duhai, tahukah kamu?

Bahwa sebagian besar wanita itu pencemburu. Tidak penting nantinya 'kamu' dengan siapa. Yang terpenting adalah aku menyemogakan dirimu agar suatu saat nanti jika telah ada yang mendampingi, kau mengerti bagaimana cara menjaga hatinya. Duhai, pahamkah dirimu? Betapa tegarnya seorang wanita yang tersenyum Saat seorang yang dicintainya bercengkrama dengan 'teman'nya Saat seorang yang dicintainya menceritakan seorang perempuan selain ibunya Duhai, mau mengertikah kamu? Betapa teguhnya perasaan wanita Saat ia memahami, dirinya tak diperjuangkan Namun masih berusaha untuk menjaga hati Adamnya

Matematika Kehidupan

Sejak kecil sebelum rumus matematika semakin kompleks, kita dikenalkan lebih dulu dengan ping para lan suda (kali, bagi, tambah, kurang) Saat aku punya dua apel, apel itu akan habis pabila kubagikan kepada dua orang temenku. 2-2 = 0. Tapi. Sebentar. Bukankah 2-2=2? 2 dari mana? Dari pahala yang Allah berikan, insyaAllah Eh tapi jangan pakai rumus ini ya kalau lagi ngerjain soal matematika di sekolah.

Hai, Apa Kabar?

Hai, apa kabar yang sudah lama tak jumpa? Apa kabar yang sudah enggan menyapaku? Eh, atau aku yang enggan menyapa. Maafkan aku. Jika kamu rasa ada yang berbeda denganku. Bertahan atau pergi, adalah hak. Pun, aku takkan memaksamu bertahan, jika dirasa tidak nyaman. Di sebuah relasi yang membuatku asing, tak tau menau disaat yang lain diberi tau, sungguh membuatku jadi lebih enggan. Eh tapi itu hanya enggan. Aku akan tetap bertahan, setidaknya dipertemuan antara mataku dan pergantian malam, namamu selalu kudoakan. Maafkan aku. Jika tak lagi selalu ada. Menyambut hari² pentingmu. Yang jelas, aku selalu senang setiap tahu bahwa kamu dan keluargamu sehat.  Maafkan aku. Belum banyak mengirimkan banyak hadiah. Tapi yakinlah, bahwa itu bukan satu²nya simbolis tuk menandakan rasa sayangku. Semoga kabarmu baik² saja. Aku di sini sedang mencukupkan diri. Sedang memenuhi diri. Suatu saat, rasanya ingin kembali lagi bercengkrama seperti dulu. Jika masih diizinkan masuk.