Langsung ke konten utama

Postingan

Puisi Bulan September

Rasa yang Menyiksa (gores pena: Galih Ratna Puri Palupi) Semua ini tentang cinta Tak jelas, namun menyesakkan dada Galau ingin bejumpa Rindu ingin bersua Namun bertemu memungkinkan aku tuk membungkam cerita Memilih diam menikmati alirannya Tapi dosa menjadi batasnya Hati pasrah menangis dibuatnya Semua tentang cinta Yang harus datang tepat pada waktunya Tapi tak kunjung diperjelaskan Mengundang harap dan tanya keraguan Terbersit dan mengalun di hati begitu saja Tak jelas kemana arahnya Pun tak memahami duka cita menjaga diri Ya, aku menjaganya Walau kering sudah kesabaran diri Untuk acuh dengan kabar tentangnya Ce i en te a Kau

Jazzakillahu Khoiron Katsira, Allah

Inilah akhirnya harus ku akhiri Sebelum cintamu semakin dalam Maafkan diriku terlanjur setia. Nah, kurang lebih seperti itu coping strategiku menerima rencana Tuhan yang pasti akan indah ini. Jadi pura-puranya aku memilih seia di Psikologi UNS. Hehe. Sudah terjawab segala keragu-raguan yang selama ini menyita keras pikiran ini. Istilahnya kalau dianalogikan, Cuma Psikologi seseorang yang mampu menerimaku apa adanya. Begitu. Hehe. Gimana perasaannya setelah menghadapi liku itu?Kecewa? Frustasi?atau Depresi mungkin? Alhamdulillah, kecewa. Tapi untungnya kecewaku tidak menjauhkan aku dari Tuhan Yang Maha Baik. Sehingga, masih kukenali logika-logika itu. Masih mau kudengar nasehat orang tentang apa yang seharusnya kupikirkan saat ini, yaa meskipun masi panas telinga ini mendengar FKG UGM. Hehehe. Dengan menempuh semua ini justru lebih kukenali siapa diri ini Dengan melewatinya justru lebih kumaknai mengapa aku ada di Solo ini Dan, melalui jalan ini, justru aku le...

Bercermin dalam Kaca Teori Frieldman dan Rosenman

Berbicara mengenai kepribadian, maka saya dapat dikategorikan sebagai orang yang ambisius. Saya adalah seorang pemimpi. Tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini, selain manusia tidak ingin bertindak atas kemauannya dan Tuhan tidak berkehendak. Saya sering menulis dan meruntutkan satu persatu mimpi diselembar kertas. Kebetulan mimpi terdekat saya adalah dapat berkuliah di universitas tertentu di Yogyakarta tempat saya dilahirkan. Sementara kondisi saya saat ini adalah sedang menjalani kuliah di jurusan psikologi Universitas Sebelas Maret. Dengan keyakinan, saya bawa mimpi-mimpi itu dalam berbagai upaya mencari jalan mewujudkannya. Saya korbankan waktu-waktu yang seharusnya untuk belajar mata kuliah di semester dua untuk mendalami materi yang merupakan bahan untuk mengikuti tes masuk perguruan tinggi negeri, yang sering disebut SBMPTN(Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Begitupun dengan mimpi-mimpi saya yang lain, menjadi pemain basket di suatu tim, menang dalam t...

Butir-butir Penerimaan

Kini, apa yang kau lepas menjadi sebuah penerimaan Dan penerimaan menjadi nafas kenyataan Aku di kidung pilu Kau di ujung rindu Aku dibela rasa untuk setia Berjalan tak berlogika Kau? Memikirkan aku sudah tak jaman Mending cari yang sejalan Kupikir kebahagiaan adalah menikmati kesendirian Nyatanya itu kehampaan Nyatanya ketegaran adalah kejujuran yang berbalut kebohongan Meski banyak nasehat kebijaksanaan Tapi tak semudah apa yang dikatakan Kini, berjalan hanyalah berjalan Karena makna, tinggalah cinta yang kukenang

Tidak Mau ke Mall Bersama Ibu(lagi)

Belanja di Mall? Saya senang sekali cuci mata di sana. Memasukki satu persatu deretan toko. Melihat baju, sepatu, buku, tas, dan lain sebagainya, dengan temanku. Ya, memang hanya ada dua pilihan ketika itu, dompet tebel atau siap mental. Hahaha. Karena selalu ada barang yang diinginkan.Ya kan? Tapi, aku merasa bersalah ketika mengajak ibuku pergi ke Mall. Apalagi ketika beliau mulai mengeluh kecapean, sedangkan aku masih bersikeras mendapatkan apa yang aku inginkan. Astagfirullah, teganya anakmu ini. Kurang sayang apa ibu padaku, saat kecapean masih mampu memenuhi segala keinginanku, bercerita dan tertawa. Dan setelah itu, setelah mendapatkan apa yangku ingin, aku tak mau bertanggungjawab dengan kelelahannya. Sedih, jika mengingat hari itu. Aku tidak mau lagi mengajaknya jalan kaki dari Pasar Beringharjo ke Matahari Mall, hanya untuk mengabulkan keinginanku. Bukan karena aku malu.Tapi, Ibu sudah cukup lelah mendengar list keinginan-keinginanku, apalagi beraksi mewujudkannya. Biark...

Di Balik Harapan, Allah Sampaikan Makna

Jika dipirkir, hidup memang semakin berliku. Semakin dewasa semakin tajam likunya. Dan tanpa disadari, itulah pendewasaan. Dengan kemampuan yang berbatas, kita dituntut untuk memiliki kemampuan yang  tak berbatas. Nyatanya, manusia memang memiliki kemampuan tak berbatas, jika ia mau mencoba dan berusaha. Keberadaan orang lain memang memberi pengaruh pada kita. Orang lain dengan ujung dunia yang berbeda, bersalaman dengan kita. Tiba-tiba masuk dalam hidup kita dan menilai siapa kita. Mengritik dan berpendapat tentang yang seharusnya dan yang sebaiknya. Dengarlah, sahabatku. Bersabarlah, dengan apa yang tak kau inginkan. Serta, bersyukurlah dengan yang telah kau inginkan. Karena hidup ternyata memang bergini. Akupun juga tak mengerti, mengapa penilaian orang lain berkontribusi besar dalam membentuk sikap serta pikiran kita. Awalnya, aku benci dengan penilaian mereka yang salah tentang diri ini. Bersikap berbeda dengannya, mencoba untuk mengabaikan kata-katanya. Hmm.. jenuh rasa...

Muara yang T'terduga

Rabu, 14 Mei 2014 Setiap pertemuan, pasti berbuah manis dan penuh makna, meskipun tidak di awal datangnya. Bersyukur, Allah memberikan aku banyak kesempatan untuk tiba dalam suatu perkenalan. Meskipun awalnya aku sempat enggan. Tapi, nyatanya Pusdiklat mempertemukan kami dalam lingkaran istimewa Simphosium Neurosains. Perkenalkanlah aku, sebelum lebih jauh kugores jejak istimewa hari ini. Namaku Galih Ratna Puri Palupi, panggil saja Galih. Orang yang penuh impian dalam hidupnya. Namun, sayang ia tak pandai berbicara maupun membangun hubungan interpersonal yang baik dengan orang lain. Dia pendiam, pemalu. Menurut orang, dia introvet, padahal sebenarnya dia sangat terbuka, hanya takut orang lain salah paham memaknai kata-katanya. Sungguh, aku memang bukan siapa-siapa. Hanya pemimpi yang ingin menemukan muara di mana Allah menakdirkan. Berambisi menjadi seorang dokter, tetapi Allah menempatku di tempat ini. Membuatku mengerti tempat ini, membuat aku menjadi orang Jogja yang t...