Langsung ke konten utama

Di Balik Harapan, Allah Sampaikan Makna

Jika dipirkir, hidup memang semakin berliku. Semakin dewasa semakin tajam likunya. Dan tanpa disadari, itulah pendewasaan. Dengan kemampuan yang berbatas, kita dituntut untuk memiliki kemampuan yang  tak berbatas. Nyatanya, manusia memang memiliki kemampuan tak berbatas, jika ia mau mencoba dan berusaha.

Keberadaan orang lain memang memberi pengaruh pada kita. Orang lain dengan ujung dunia yang berbeda, bersalaman dengan kita. Tiba-tiba masuk dalam hidup kita dan menilai siapa kita. Mengritik dan berpendapat tentang yang seharusnya dan yang sebaiknya.

Dengarlah, sahabatku. Bersabarlah, dengan apa yang tak kau inginkan. Serta, bersyukurlah dengan yang telah kau inginkan. Karena hidup ternyata memang bergini. Akupun juga tak mengerti, mengapa penilaian orang lain berkontribusi besar dalam membentuk sikap serta pikiran kita.

Awalnya, aku benci dengan penilaian mereka yang salah tentang diri ini. Bersikap berbeda dengannya, mencoba untuk mengabaikan kata-katanya. Hmm.. jenuh rasanya menhadapi suaranya. Namun, Allah menemukan aku pada suatu hal yang membuatku harus kembali bersabar. Bukankah kita semua tau, jika ingin menjadi orang yang penyabar, tempuh dulu ujian kesabarannya?:)

Di balik harapan, ternyata Allah sampaikan makna tersirat. Seolah hanya yang mampu memaknai, yang mampu menerima maknanya:).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Duhai, tahukah kamu?

Bahwa sebagian besar wanita itu pencemburu. Tidak penting nantinya 'kamu' dengan siapa. Yang terpenting adalah aku menyemogakan dirimu agar suatu saat nanti jika telah ada yang mendampingi, kau mengerti bagaimana cara menjaga hatinya. Duhai, pahamkah dirimu? Betapa tegarnya seorang wanita yang tersenyum Saat seorang yang dicintainya bercengkrama dengan 'teman'nya Saat seorang yang dicintainya menceritakan seorang perempuan selain ibunya Duhai, mau mengertikah kamu? Betapa teguhnya perasaan wanita Saat ia memahami, dirinya tak diperjuangkan Namun masih berusaha untuk menjaga hati Adamnya

Matematika Kehidupan

Sejak kecil sebelum rumus matematika semakin kompleks, kita dikenalkan lebih dulu dengan ping para lan suda (kali, bagi, tambah, kurang) Saat aku punya dua apel, apel itu akan habis pabila kubagikan kepada dua orang temenku. 2-2 = 0. Tapi. Sebentar. Bukankah 2-2=2? 2 dari mana? Dari pahala yang Allah berikan, insyaAllah Eh tapi jangan pakai rumus ini ya kalau lagi ngerjain soal matematika di sekolah.

Hai, Apa Kabar?

Hai, apa kabar yang sudah lama tak jumpa? Apa kabar yang sudah enggan menyapaku? Eh, atau aku yang enggan menyapa. Maafkan aku. Jika kamu rasa ada yang berbeda denganku. Bertahan atau pergi, adalah hak. Pun, aku takkan memaksamu bertahan, jika dirasa tidak nyaman. Di sebuah relasi yang membuatku asing, tak tau menau disaat yang lain diberi tau, sungguh membuatku jadi lebih enggan. Eh tapi itu hanya enggan. Aku akan tetap bertahan, setidaknya dipertemuan antara mataku dan pergantian malam, namamu selalu kudoakan. Maafkan aku. Jika tak lagi selalu ada. Menyambut hari² pentingmu. Yang jelas, aku selalu senang setiap tahu bahwa kamu dan keluargamu sehat.  Maafkan aku. Belum banyak mengirimkan banyak hadiah. Tapi yakinlah, bahwa itu bukan satu²nya simbolis tuk menandakan rasa sayangku. Semoga kabarmu baik² saja. Aku di sini sedang mencukupkan diri. Sedang memenuhi diri. Suatu saat, rasanya ingin kembali lagi bercengkrama seperti dulu. Jika masih diizinkan masuk.