Langsung ke konten utama

#OTWbalikBantul

OTW "on the way", "dalam perjalanan"

Mungkin terlalu cepat ya, tahapannya. Belum persiapan kok andang-andang udah otw aja. Kalau berlama-lama persiapan ndak gag berangkat-berangkat. Hehehe.

Setuju, kebaikan itu memang harus dipaksa. Aku yang saat ini terlalu nyaman ada di Solo, merasa useless aja kalau aktivitasnya itu itu aja. Pagi ngampus, makan, pulang kosan, main, dan lain-lain. Bosen. Dasarnya diriku ini orangnya harus gerak, dan cepat bosan apabila kegiatannya tidak bervariatif.

Jadi semakin ke sini semakin butuh nafas baru. Semakin ingin maju, tidak stag gitu-gitu aja. Harus menciptakan perubahan, minimal dari diri sendiri dulu. Wededeeh, perubahan apa itu? Pola pikir. Iyes, bener banget, salah satunya pola pikir. 

Saat ini skripsiku udah setengah jalan, bahkan sebentar lagi aku diizinkan oleh Bunda untuk melakukan penelitian di lapangan. Sebagian persiapannya udah kucicil beberapa bulan lalu, seperti perkap untuk peserta, siapa yang kan jadi fasilitator, power point, target tempat, dan siapa yang kan jadi observasi juga teman yang bantu konsumsi. Agak membuatku lega, meskipun saat ini masih takut gag dapet subjek. 

Persiapan yang udah kulakukan itu, memudahkan aku tuk meluangkan waktu pulang. Dan pulang ke  rumah buat aku baper. Kepikiran aja, besuk kalau pulang aku bakalan ngapain di sini? Aku bakal berdiam di rumah atau bagaimana nih? 

Tentu tidak. Aku tidak ingin se useless itu. Malu dengan diri sendiri, malu sama Allah yang udah ngasih aku potensi, pengalaman bahkan ngasih aku rezeki ketemu sama orang-orang hebat di Solo yang dengannya aku belajar banyak hal. Masa ya gag aku manfaatkan sebaik-baiknya?

Aku tidak ingin jadi yang biasa-biasa aja, aku ingin segala yang aku miliki ini bakal bermanfaat buat orang lain. 

Terus otwbalikbantul itu maksudnya apa sih? daritadi muter-muter ngomongnya, to the point lah.

Ini nih yang aku agak risi kalau dah diminta tuk to the point, ya gimana ya, aku kan gag pengen kamu cuma tau permukaannya aja, pengenku u tau dasarnya juga.Hehehehe.

Sejak dulu sampai sekarang aku punya target hidup. Minimal sebelum meninggalkan dunia ini, aku harus bisa mencapai target itu. Apa targetnya? Akhwat Sejati.
AKHWAT SEJATI?
Hahahaha. Mana bisa?  Masa lalumu aja kayak begitu!

Eits, santai dong. Terserah ya apa katamu, yang kuyakini adalah Allah selalu menerima masa laluku apa adanya dan bersedia menuntunku ke jalan yang lurus jika aku bersungguh-sungguh. 

Tapi, sepertinya dah jadi akhwat sejati deh. 
Itu, jilbabmu dah lebar! Trus pake kaos kaki, pake manset, gag pacaran, gag salaman. bla bla bla.

hihihihihi. Amin. Tapi, bukan hanya itu aja sis parameterku. Itu hanya beberapa dari banyak hal ideal yang ingin kucapai.

Hmm.. kenapa pengin jadi akhwat sejati? Biar dapet jodoh sholih ya? 

Hahaha. Amin ya Rabb. Tentu tidak, sis. Kamu tau ndak? Sebelum memiliki target itu, diri ini sudah menganalisis terlebih dulu. Mulai dari,
1. Perempuan yang baik di mata Allah itu yang bagaimana ya? Ya siapa sih yang ga mau jadi perempuan yang baik di mata Allah? Aku yakin semua pada mau.
2.  Setelah menemukan jawabannya, membuat definisi yang lebih umum buat diri sendiri. misal: Akhwat sejati. 
3. Trus tanya lagi ke diri sendiri.Niatnya apa? Emang kalau kamu dah jadi akhwat sejati trus kenapa? 

Yaps semacam itu. Analisis yang cukup Allah aja yang tau. Niatan yang tak perlu disuratkan. 

Haaah, OTWbalikBantul adalah salah satu upaya untuk mencapai target tersebut. 

Pokoknya aku gag mau kalau pas aku balik Bantul, aku gag bisa ngelakuin apa-apa, aku gag bisa bermanfaat, aku gag punya hal buat di bagi. Aku harus punya semua itu. Punya hal untuk di bagi, punya hal yang bermanfaatlah pokoknya.

Dalam rangka itu, sejak beberapa minggu yang lalu, aku mulai melakukan perjalanan untuk survey, hehehe. Dan beruntung banget aku punya kalian gais, teman-teman hebat yang sampai sekarang masih setia 'menerimaku'. 

OTWbalikBantul
Aku mulai mengumpulkan puzzle hingga terangkai utuh saat ku benar-benar pulang nanti. 
Hari Sabtu kemarin aku mendapat kesempatan untuk menemani sahabat SMA mengisi kajian mahasiswa di kampus UNY Kulonprogo. Banyak hal yang ingin kuketahui darinya. Diskusi di perjalanan, sambil mendengarkan pesannya untuk peserta kajian dan seperti biasa, membaca pola pikirnya. Sahabat yang satu ini sungguh menginspirasi dan menguatkan aku di masa-masa suram. Saat terlampau jauh, bertemu dengan sahabat ini membuatku mudah untuk 'kembali'.

Aku banyak belajar mengarahkan diri untuk tetap Lillah. Gag cuman sadar kalau Allah itu Baik, tapi juga berusaha dengan tindakan nyata, untuk jadi hamba yang baik juga untuk Allah. Aaaa, kan jadi baper pengin ndang balik Bantul.

Setidaknya nanti, jika aku balik Bantul. Aku punya banyak materi untuk memotivasi muda/i di dusunku tuk bangkit dan memberdayakan potensi diri bersama-sama. Kita sama-sama meyakini bahwa kita ini berdaya. Bisa memberdayakan dan bisa di berdayakan dalam hal-hal baik.

Setidaknya nanti, aku sudah punya bekal pengetahuan tentang bagaimana menghidupkan Taman Baca Al-Qur'an di Mushola Baiturrahman yang kini mulai sunyi. Ya ampun, jadi inget, modul TPA yang waktu itu kudapat dari SKI FK UNS kutaruh di mana yak?. Yaps, setidaknya aku punya pengetahuannya, perwujudannya bisa merangkul teman-teman di sini. 

Setidaknya nanti, aku punya kebermanfaatan yang bisa dikembangkan di Bantul. Seperti modul pengenalan anti korupsi yang kudapat dari mengikuti penelitian dosen (sebelumnya memastikan dulu modul itu efektif tuk diterapkan atau tidak) untuk di terapkan di Omah Keong, rumah pendidikan yang didirikan oleh (lagi lagi teman sendiri) mbak Niken dan kawan-kawan. 

Kalau dipikir-pikir, emang bener ya? Kegiatan yang kita lakukan kemarin menentukan hal-hal di hari esok. Kalau banyak manfaat yang ditanam, insyaAllah bakal panen kebermanfaatan juga yang bisa dibagi dan diciptakan melalui tangan orang lain.

Jadi, siapa yang mau ikutan OTWbalik(kota masing-masing) ??

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Duhai, tahukah kamu?

Bahwa sebagian besar wanita itu pencemburu. Tidak penting nantinya 'kamu' dengan siapa. Yang terpenting adalah aku menyemogakan dirimu agar suatu saat nanti jika telah ada yang mendampingi, kau mengerti bagaimana cara menjaga hatinya. Duhai, pahamkah dirimu? Betapa tegarnya seorang wanita yang tersenyum Saat seorang yang dicintainya bercengkrama dengan 'teman'nya Saat seorang yang dicintainya menceritakan seorang perempuan selain ibunya Duhai, mau mengertikah kamu? Betapa teguhnya perasaan wanita Saat ia memahami, dirinya tak diperjuangkan Namun masih berusaha untuk menjaga hati Adamnya

Matematika Kehidupan

Sejak kecil sebelum rumus matematika semakin kompleks, kita dikenalkan lebih dulu dengan ping para lan suda (kali, bagi, tambah, kurang) Saat aku punya dua apel, apel itu akan habis pabila kubagikan kepada dua orang temenku. 2-2 = 0. Tapi. Sebentar. Bukankah 2-2=2? 2 dari mana? Dari pahala yang Allah berikan, insyaAllah Eh tapi jangan pakai rumus ini ya kalau lagi ngerjain soal matematika di sekolah.

Hai, Apa Kabar?

Hai, apa kabar yang sudah lama tak jumpa? Apa kabar yang sudah enggan menyapaku? Eh, atau aku yang enggan menyapa. Maafkan aku. Jika kamu rasa ada yang berbeda denganku. Bertahan atau pergi, adalah hak. Pun, aku takkan memaksamu bertahan, jika dirasa tidak nyaman. Di sebuah relasi yang membuatku asing, tak tau menau disaat yang lain diberi tau, sungguh membuatku jadi lebih enggan. Eh tapi itu hanya enggan. Aku akan tetap bertahan, setidaknya dipertemuan antara mataku dan pergantian malam, namamu selalu kudoakan. Maafkan aku. Jika tak lagi selalu ada. Menyambut hari² pentingmu. Yang jelas, aku selalu senang setiap tahu bahwa kamu dan keluargamu sehat.  Maafkan aku. Belum banyak mengirimkan banyak hadiah. Tapi yakinlah, bahwa itu bukan satu²nya simbolis tuk menandakan rasa sayangku. Semoga kabarmu baik² saja. Aku di sini sedang mencukupkan diri. Sedang memenuhi diri. Suatu saat, rasanya ingin kembali lagi bercengkrama seperti dulu. Jika masih diizinkan masuk.