Langsung ke konten utama

TEntang (sebuah) MAntra kehidupaN



Pergilah jika ingin pergi. Di dunia ini, malam tetaplah malam. Sepi dan gelap. Bintang menjadi sesuatu yang didamba karena sinarnya yang terang dan mampu memberi nyawa keramaian. Kamu suka keramaian kan? Sedangkan aku adalah hening. Bulan dirindui keramahan lengkung senyum sabitnya. Ah tapi tak juga. Malam tetaplah malam. Sunyi. Jarang orang yang suka sunyi, jarang orang yang suka sepi. Tapi pada akhirnya hanya malam yang meminjamkan waktu merebahkan diri, dan bercengkrama dengan hati, sambil menunggu matahari.
Suatu saat ku semakin terjerembab dalam penjara yang menjebak satu persatu pemikiran. Suatu saat sekujur tubuhku kaku. Dan pada akhirnya pula, hanya Tuhan yang menyelamatkan aku.
Pergilah jika ingin pergi.
Karena sedari dulu ku menyadari, kau akan pergi. Mana ada yang mencintai malam tanpa bintang dan bulan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Bulan September

Rasa yang Menyiksa (gores pena: Galih Ratna Puri Palupi) Semua ini tentang cinta Tak jelas, namun menyesakkan dada Galau ingin bejumpa Rindu ingin bersua Namun bertemu memungkinkan aku tuk membungkam cerita Memilih diam menikmati alirannya Tapi dosa menjadi batasnya Hati pasrah menangis dibuatnya Semua tentang cinta Yang harus datang tepat pada waktunya Tapi tak kunjung diperjelaskan Mengundang harap dan tanya keraguan Terbersit dan mengalun di hati begitu saja Tak jelas kemana arahnya Pun tak memahami duka cita menjaga diri Ya, aku menjaganya Walau kering sudah kesabaran diri Untuk acuh dengan kabar tentangnya Ce i en te a Kau

Unfollow

Rasa-rasanya aku ingin sekali memencet tombol itu. Kemudian menitipkan nafasku kepada kamu yang didamba hadirnya Kepada kamu yang ingin lebih lama menjejak di bumi Rasa-rasanya aku ingin menekan tombol itu Lalu kutitipkan rasa cinta sepaket dengan ketulusannya, kesetiaan dan kesabaran menunggu.. Kepada ia yang kamu harapkan

Bebas

Untuk Dia yang Kuinginkan Gores pena: Galih Ratna Puri Palupi Di sudut dermaga Aku terjerembab dalam lembayung senja Erat dengan perahu-perahu yang lekat dengan jerat temalinya Di sudut, tempat ribuan kristal menyelinap dalam butiran pasir Tak sempat kunyatakan Tak mampu kuungkapkan Bunga-bunga hati yang menghiasi empunya Di kepalanya menjulur kain   hijau toska Tak pernah terlihat belaian demi belaian rambutnya Lembut ku lihat lengkungan senyumnya Membersamai bintang yang membias sinarnya Diantara samudera Di sudut dermaga Dia saksikan purnama dalam temaram Ditulis dengan pena kerinduannya Tuhan, pertemukan kami di SurgaMu -Surakarta, 21 Februari 2014-