Langsung ke konten utama

Represi

Kemarin kakak kandung laki-lakiku mengantar ke sebuah toko buku terbesar di kota. Aku bahagia sepenuh hati, kali pertamanya aku pergi ke toko buku bersama masku. Rindu yang buncah kini menggema. Seolah nyata. Dia dengan riang mengajakku berkeliling, ke pusat perbelanjaan memenuhi kebutuhan ibu, ke kebun mawar, ke kebun sedap malam, ke kebun lily, ke kebun dahlia, ke telaga Sarangan, main ke kosanku dan akhirnya pulang lagi ke rumah,berkumpul di dapur menyantap cerita renyah. Aku sangat merasakan ada keutuhan itu. Suasana utuh yang kurindu seperti pulang. Cerita-ceritaku yang belum selesai seakan tersambung kembali.

Terakhir aku melihatnya tertawa lepas, matanya memandangku penuh kasih sayang dan hangat. Dia tampan mengenakan kemeja kotak-kotak hitam dan celana kain dengan warna seirama, pakaian yang paling sering dipakai. Waktu aku ingin bilang kepadanya , "Ternyata mas,masih ada :) !" aku sudah kadung bangun duluan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku mencintaimu karena Allah

Kepada teman baikku, semua tak terkecuali Satu hal yang sering kuimpi-impikan, melihat kita berkembang dan bertumbuh, membungkus perbekalan, hingga Allah SWT katakan cukup. Memerintah malaikat izrail tuk menjemput. Lalu impian selanjutnya untuk bertemu Rabb kita semakin dekat. Sesungguhnya, kuakui memang sulit meninggalkan cinta yang jadi fitrah kita. Sebagai aku yang tak pernah jauh dari perasaan itu, perlu proses panjang rasanya untuk tak ubahnya menasehati diri agar lebih sempurna dalam menyikapi cinta kepada makhluk. Pandai-pandai meluruskan niat dan mengembalikan segala kepadaNya. Pembuktian cinta kepada yang selalu mencintai kita tiada habisnya, sungguh panjang. Jangan pernah menyerah. Jangan pernah berhenti, meski harus merangkak.
Kulihat dari jauh, Matamu begitu sengit pada hujan Rintik demi rintik yang kau kira rindu itu, ternyata hanyalah pemudar senja Bibirmu bergerak, seakan mengeja ketakutan-ketakutan dalam diri Segenap keteguhanku seolah ingin menyambangimu Berbisik tentang gerangan yang tak kau relakan hilang "Tenanglah, Tuhan akan menjaga namamu dalam hatinya. Hujan takkan memudarkan namamu, ia akan membeningkan." Namun justru kau sendiri yang menjadi hujan dalam pikirmu. Memudarkannya.
Saringan Aku butuh saringan yang lebih lembut Agar lebih sedikit keburukan yang kulakukan Agar lebih mudah konsisten dengan hal-hal baik dan sesuai dengan ketentuanNya Untuk kuterapkan dalam hidupku