Langsung ke konten utama

Represi

Kemarin kakak kandung laki-lakiku mengantar ke sebuah toko buku terbesar di kota. Aku bahagia sepenuh hati, kali pertamanya aku pergi ke toko buku bersama masku. Rindu yang buncah kini menggema. Seolah nyata. Dia dengan riang mengajakku berkeliling, ke pusat perbelanjaan memenuhi kebutuhan ibu, ke kebun mawar, ke kebun sedap malam, ke kebun lily, ke kebun dahlia, ke telaga Sarangan, main ke kosanku dan akhirnya pulang lagi ke rumah,berkumpul di dapur menyantap cerita renyah. Aku sangat merasakan ada keutuhan itu. Suasana utuh yang kurindu seperti pulang. Cerita-ceritaku yang belum selesai seakan tersambung kembali.

Terakhir aku melihatnya tertawa lepas, matanya memandangku penuh kasih sayang dan hangat. Dia tampan mengenakan kemeja kotak-kotak hitam dan celana kain dengan warna seirama, pakaian yang paling sering dipakai. Waktu aku ingin bilang kepadanya , "Ternyata mas,masih ada :) !" aku sudah kadung bangun duluan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Duhai, tahukah kamu?

Bahwa sebagian besar wanita itu pencemburu. Tidak penting nantinya 'kamu' dengan siapa. Yang terpenting adalah aku menyemogakan dirimu agar suatu saat nanti jika telah ada yang mendampingi, kau mengerti bagaimana cara menjaga hatinya. Duhai, pahamkah dirimu? Betapa tegarnya seorang wanita yang tersenyum Saat seorang yang dicintainya bercengkrama dengan 'teman'nya Saat seorang yang dicintainya menceritakan seorang perempuan selain ibunya Duhai, mau mengertikah kamu? Betapa teguhnya perasaan wanita Saat ia memahami, dirinya tak diperjuangkan Namun masih berusaha untuk menjaga hati Adamnya

Matematika Kehidupan

Sejak kecil sebelum rumus matematika semakin kompleks, kita dikenalkan lebih dulu dengan ping para lan suda (kali, bagi, tambah, kurang) Saat aku punya dua apel, apel itu akan habis pabila kubagikan kepada dua orang temenku. 2-2 = 0. Tapi. Sebentar. Bukankah 2-2=2? 2 dari mana? Dari pahala yang Allah berikan, insyaAllah Eh tapi jangan pakai rumus ini ya kalau lagi ngerjain soal matematika di sekolah.

Hai, Apa Kabar?

Hai, apa kabar yang sudah lama tak jumpa? Apa kabar yang sudah enggan menyapaku? Eh, atau aku yang enggan menyapa. Maafkan aku. Jika kamu rasa ada yang berbeda denganku. Bertahan atau pergi, adalah hak. Pun, aku takkan memaksamu bertahan, jika dirasa tidak nyaman. Di sebuah relasi yang membuatku asing, tak tau menau disaat yang lain diberi tau, sungguh membuatku jadi lebih enggan. Eh tapi itu hanya enggan. Aku akan tetap bertahan, setidaknya dipertemuan antara mataku dan pergantian malam, namamu selalu kudoakan. Maafkan aku. Jika tak lagi selalu ada. Menyambut hari² pentingmu. Yang jelas, aku selalu senang setiap tahu bahwa kamu dan keluargamu sehat.  Maafkan aku. Belum banyak mengirimkan banyak hadiah. Tapi yakinlah, bahwa itu bukan satu²nya simbolis tuk menandakan rasa sayangku. Semoga kabarmu baik² saja. Aku di sini sedang mencukupkan diri. Sedang memenuhi diri. Suatu saat, rasanya ingin kembali lagi bercengkrama seperti dulu. Jika masih diizinkan masuk.