Langsung ke konten utama

Gerhana

Semusim kemarin
Purnama bercerita tentangmu
Awalnya aku tersenyum melebarkan dua telinga, tak sabar menunggu


Katanya kamu menulis nama seseorang di dalam lembar kehidupanmu
Dia memberi tahu namanya kepadaku


Itu kali pertamaku memohon perpisahan kepada purnama
Karena setelah mendengar ceritanya, aku tak mampu lagi melihat sinarnya
Pedarnya tak mampu merayu bening mataku
Sinar yang biasa menghangatkan dan menabur damai dalam jarakmu yang begitu jauh dariku


Sejak jemarimu menulis namanya,
Sejak itulah aku mencoba mencintai waktu yang mungkin akan memindahkan detakmu pada nama itu
Mencoba berkenalan dengan luruh yang bahkan selama ini tak pernah kutaruh
Aku enggan,
Segan menerka gerangan yang kini ada di hati(mu)
Gelap




Sejak itulah,
Sajak ini kehilangan nyawa
Kehilanganmu





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku mencintaimu karena Allah

Kepada teman baikku, semua tak terkecuali Satu hal yang sering kuimpi-impikan, melihat kita berkembang dan bertumbuh, membungkus perbekalan, hingga Allah SWT katakan cukup. Memerintah malaikat izrail tuk menjemput. Lalu impian selanjutnya untuk bertemu Rabb kita semakin dekat. Sesungguhnya, kuakui memang sulit meninggalkan cinta yang jadi fitrah kita. Sebagai aku yang tak pernah jauh dari perasaan itu, perlu proses panjang rasanya untuk tak ubahnya menasehati diri agar lebih sempurna dalam menyikapi cinta kepada makhluk. Pandai-pandai meluruskan niat dan mengembalikan segala kepadaNya. Pembuktian cinta kepada yang selalu mencintai kita tiada habisnya, sungguh panjang. Jangan pernah menyerah. Jangan pernah berhenti, meski harus merangkak.
Kulihat dari jauh, Matamu begitu sengit pada hujan Rintik demi rintik yang kau kira rindu itu, ternyata hanyalah pemudar senja Bibirmu bergerak, seakan mengeja ketakutan-ketakutan dalam diri Segenap keteguhanku seolah ingin menyambangimu Berbisik tentang gerangan yang tak kau relakan hilang "Tenanglah, Tuhan akan menjaga namamu dalam hatinya. Hujan takkan memudarkan namamu, ia akan membeningkan." Namun justru kau sendiri yang menjadi hujan dalam pikirmu. Memudarkannya.
Saringan Aku butuh saringan yang lebih lembut Agar lebih sedikit keburukan yang kulakukan Agar lebih mudah konsisten dengan hal-hal baik dan sesuai dengan ketentuanNya Untuk kuterapkan dalam hidupku