Langsung ke konten utama

Postingan

Diam Membawamu ke Mana-mana

Dengan pemikiran yang masih butuh berkembang dan bertumbuh, kutuliskan kekata ini dengan harap ridho dariNya, Allah Ta'ala. "Diam tidak membawamu ke mana-mana." Laaah, tapi aku bisa membawa diriku kemana-mana dengan diam. #DasarNgeyel&Sombong.. Astagfirullah . Tidak tau kenapa aku agak kurang setuju dengan pernyataan di atas. Kenapa? Karena aku orangnya cenderung pendiam? Bukan!! Pernyataan itu seolah menyudutkan Diam. Apa ya, kayak kurang lengkap kalimat itu. Sekilas jika dibaca, orang mungkin bakal langsung menggeneralisasikan bahwa diam itu adalah sesuatu yang negatif.  Memang diam seperti apa yang tidak bisa membawa seseorang ke mana-mana? Diam yang gag bikin orang lain bilang WAW ke kamu? Atau diam yang ga bisa bikin orang lain tepuk tangan ke kamu? Atau diam ga berkomunikasi sama Allah? Hiks.  Setauku ada hadis shohih yang bilang gini: Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, me...

Kamu bisa Menerima Dirimu dan Lingkunganmu lebih dari ini!

Setiap manusia di bumi tentu saja memiliki masalah.  Ah,  aku lebih suka menyebut masalah dengan ujian.  Sepertinya itu lebih baik untuk di dengar.  Ujian saat kondisi yang seharusnya membuatmu menerima,  menjadi tidak menerima.  Hilang rasa ikhlas.  Tapi aku yakin,  kamu sadar seutuhnya bahwa kamu memanglah harus menerima diri dan lingkungan apa adanya.  Aku yakin kamu sadar.  Jadi,  aq tak akan bilang padamu kamu harus menerima dirimu.  Aku yakin kamu sedang berusaha mencobanya.  Dan itu tidak mudah bukan? Jika aq mengira-ngira dan mudah menyimpulkan,  khawatirku kau justru akan lebih terbebani oleh kesimpulanku.  Aku yakin, Kamu adalah orang yang selalu berusaha. Keras bahkan. Lebih keras dari yang kulihat sekarang. Aku yakin,  kamu akan menjadi lebih bijaksana dari sekarang. Dirimu yang sudah menerima ini,  akan lebih menerima suatu saat.  Iya,  aku yakin. Maaf karena sudah membua...

S(kri)Psi

Menjadi mahasiswa tingkat akhir awalnya menyenangkan. Aku bebas dari rutinitas perkuliahan yang sangat membosankan karena gaya mengajarnya begitu-begitu saja. Presentasi-pulang. Bahkan aku hampir hapal bagaimana pola masing-masing dosen mengajar. Di akhir semester ini sebenarnya aku begitu tertarik mata kuliah TAT, mata kuliah tentang rehabilitasi, terapi humanistik, hanya karena aku tidak yakin aku mengubur keinginan itu. Sebenernya aku sadar bahwa luasnya ilmu pengetahuan itu bukan bergantung dosen, tapi kemauan diri. Kamu tidak salah kalau berpendapat seperti itu. Namun, bagiku itu tidak 100% dari diri sendiri. Bagaimana dosen ambil bagian memberi asupan ilmu kepada mahasiswanya sangat memengaruhi niat kita belajar. Silahkan dibuktikan sendiri. Aku lumayan sering berdiskusi receh dengan beberapa rekan, yang hasilnya seserius ini. Ceritanya, rekanku sudah lulus dan hijrah di jenjang S2 di kampus terbaik di Jogja. Ia menceritakan banyak hal, dari bagaimana dosen mengajar, memotivasi,...
Mohon maaf, hati. Aku sedang sibuk. Mohon maaf, hati. Aku ingin kau belajar mengendalikan dirimu. Mohon maaf, hati. Bicaralah pada dirimu, Allah selalu menemukanmu, kerumitan-kerumitanmu, kesulitan-kesulitanmu, kemalasanmu, dan kekuranganmu. Allah menemukanmu, dia datang di sepertiga malammu. Allah-lah yang memahami betapa istimewanya kamu, Allah yang mengerti semuanya tentangmu. Siapkan dirimu untuk bertemu denganNya, pertemuan yang mungkin akan mengejutkan dirimu. Mohon maaf, hati. Aku sudah tak ingin lagi berpikir. Aku ingin sibuk dengan hal lain. Mohon maaf, hati. Aku tidak menyalahkanmu. Kamu hanya perlu menerima, bahwa saat ini adalah yang terbaik.
Jangan jual kebaikanmu. Tawarkan ke semua orang, dan berikanlah secara cuma-cuma. Tak usah takut dengan pembohong. Yakinlah, Allah Maha Pelindung dan Penolong. Yogyakarta, dalam degub Lillah.  
Tidak,  aku tidak ingin membaca tulisanmu.  Bukan karena kamu,  hanya saja aku t akut merasa bahwa nyawanya adalah aku. Padahal bukan. Aku tidak ingin membaca tulisanmu yang itu. Khawatir jika aku bahagia,  padahal itu bukan untukku.