Langsung ke konten utama

Kamu bisa Menerima Dirimu dan Lingkunganmu lebih dari ini!

Setiap manusia di bumi tentu saja memiliki masalah.  Ah,  aku lebih suka menyebut masalah dengan ujian.  Sepertinya itu lebih baik untuk di dengar. 

Ujian saat kondisi yang seharusnya membuatmu menerima,  menjadi tidak menerima.  Hilang rasa ikhlas. 

Tapi aku yakin,  kamu sadar seutuhnya bahwa kamu memanglah harus menerima diri dan lingkungan apa adanya.  Aku yakin kamu sadar. 

Jadi,  aq tak akan bilang padamu kamu harus menerima dirimu.  Aku yakin kamu sedang berusaha mencobanya.  Dan itu tidak mudah bukan?

Jika aq mengira-ngira dan mudah menyimpulkan,  khawatirku kau justru akan lebih terbebani oleh kesimpulanku. 

Aku yakin,
Kamu adalah orang yang selalu berusaha. Keras bahkan. Lebih keras dari yang kulihat sekarang.

Aku yakin,  kamu akan menjadi lebih bijaksana dari sekarang. Dirimu yang sudah menerima ini,  akan lebih menerima suatu saat. 

Iya,  aku yakin.
Maaf karena sudah membuat kesimpulan yang membebanimu. 

Mari membentuk diri ini sepositif yang kita bisa. Ujian tidak akan pernah selesai,  maka,  mari kita bentuk budaya belajar yang juga tidak akan pernah selesai.

Bukan hanya untuk menghadapi ujian, tapi untuk mengondisikan ujian.  :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku mencintaimu karena Allah

Kepada teman baikku, semua tak terkecuali Satu hal yang sering kuimpi-impikan, melihat kita berkembang dan bertumbuh, membungkus perbekalan, hingga Allah SWT katakan cukup. Memerintah malaikat izrail tuk menjemput. Lalu impian selanjutnya untuk bertemu Rabb kita semakin dekat. Sesungguhnya, kuakui memang sulit meninggalkan cinta yang jadi fitrah kita. Sebagai aku yang tak pernah jauh dari perasaan itu, perlu proses panjang rasanya untuk tak ubahnya menasehati diri agar lebih sempurna dalam menyikapi cinta kepada makhluk. Pandai-pandai meluruskan niat dan mengembalikan segala kepadaNya. Pembuktian cinta kepada yang selalu mencintai kita tiada habisnya, sungguh panjang. Jangan pernah menyerah. Jangan pernah berhenti, meski harus merangkak.
Kulihat dari jauh, Matamu begitu sengit pada hujan Rintik demi rintik yang kau kira rindu itu, ternyata hanyalah pemudar senja Bibirmu bergerak, seakan mengeja ketakutan-ketakutan dalam diri Segenap keteguhanku seolah ingin menyambangimu Berbisik tentang gerangan yang tak kau relakan hilang "Tenanglah, Tuhan akan menjaga namamu dalam hatinya. Hujan takkan memudarkan namamu, ia akan membeningkan." Namun justru kau sendiri yang menjadi hujan dalam pikirmu. Memudarkannya.
Saringan Aku butuh saringan yang lebih lembut Agar lebih sedikit keburukan yang kulakukan Agar lebih mudah konsisten dengan hal-hal baik dan sesuai dengan ketentuanNya Untuk kuterapkan dalam hidupku