Langsung ke konten utama

Kamu bisa Menerima Dirimu dan Lingkunganmu lebih dari ini!

Setiap manusia di bumi tentu saja memiliki masalah.  Ah,  aku lebih suka menyebut masalah dengan ujian.  Sepertinya itu lebih baik untuk di dengar. 

Ujian saat kondisi yang seharusnya membuatmu menerima,  menjadi tidak menerima.  Hilang rasa ikhlas. 

Tapi aku yakin,  kamu sadar seutuhnya bahwa kamu memanglah harus menerima diri dan lingkungan apa adanya.  Aku yakin kamu sadar. 

Jadi,  aq tak akan bilang padamu kamu harus menerima dirimu.  Aku yakin kamu sedang berusaha mencobanya.  Dan itu tidak mudah bukan?

Jika aq mengira-ngira dan mudah menyimpulkan,  khawatirku kau justru akan lebih terbebani oleh kesimpulanku. 

Aku yakin,
Kamu adalah orang yang selalu berusaha. Keras bahkan. Lebih keras dari yang kulihat sekarang.

Aku yakin,  kamu akan menjadi lebih bijaksana dari sekarang. Dirimu yang sudah menerima ini,  akan lebih menerima suatu saat. 

Iya,  aku yakin.
Maaf karena sudah membuat kesimpulan yang membebanimu. 

Mari membentuk diri ini sepositif yang kita bisa. Ujian tidak akan pernah selesai,  maka,  mari kita bentuk budaya belajar yang juga tidak akan pernah selesai.

Bukan hanya untuk menghadapi ujian, tapi untuk mengondisikan ujian.  :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Duhai, tahukah kamu?

Bahwa sebagian besar wanita itu pencemburu. Tidak penting nantinya 'kamu' dengan siapa. Yang terpenting adalah aku menyemogakan dirimu agar suatu saat nanti jika telah ada yang mendampingi, kau mengerti bagaimana cara menjaga hatinya. Duhai, pahamkah dirimu? Betapa tegarnya seorang wanita yang tersenyum Saat seorang yang dicintainya bercengkrama dengan 'teman'nya Saat seorang yang dicintainya menceritakan seorang perempuan selain ibunya Duhai, mau mengertikah kamu? Betapa teguhnya perasaan wanita Saat ia memahami, dirinya tak diperjuangkan Namun masih berusaha untuk menjaga hati Adamnya

Matematika Kehidupan

Sejak kecil sebelum rumus matematika semakin kompleks, kita dikenalkan lebih dulu dengan ping para lan suda (kali, bagi, tambah, kurang) Saat aku punya dua apel, apel itu akan habis pabila kubagikan kepada dua orang temenku. 2-2 = 0. Tapi. Sebentar. Bukankah 2-2=2? 2 dari mana? Dari pahala yang Allah berikan, insyaAllah Eh tapi jangan pakai rumus ini ya kalau lagi ngerjain soal matematika di sekolah.

Hai, Apa Kabar?

Hai, apa kabar yang sudah lama tak jumpa? Apa kabar yang sudah enggan menyapaku? Eh, atau aku yang enggan menyapa. Maafkan aku. Jika kamu rasa ada yang berbeda denganku. Bertahan atau pergi, adalah hak. Pun, aku takkan memaksamu bertahan, jika dirasa tidak nyaman. Di sebuah relasi yang membuatku asing, tak tau menau disaat yang lain diberi tau, sungguh membuatku jadi lebih enggan. Eh tapi itu hanya enggan. Aku akan tetap bertahan, setidaknya dipertemuan antara mataku dan pergantian malam, namamu selalu kudoakan. Maafkan aku. Jika tak lagi selalu ada. Menyambut hari² pentingmu. Yang jelas, aku selalu senang setiap tahu bahwa kamu dan keluargamu sehat.  Maafkan aku. Belum banyak mengirimkan banyak hadiah. Tapi yakinlah, bahwa itu bukan satu²nya simbolis tuk menandakan rasa sayangku. Semoga kabarmu baik² saja. Aku di sini sedang mencukupkan diri. Sedang memenuhi diri. Suatu saat, rasanya ingin kembali lagi bercengkrama seperti dulu. Jika masih diizinkan masuk.