Langsung ke konten utama

Tidak,  aku tidak ingin membaca tulisanmu. 

Bukan karena kamu,  hanya saja aku takut merasa bahwa nyawanya adalah aku.
Padahal bukan.

Aku tidak ingin membaca tulisanmu yang itu.
Khawatir jika aku bahagia,  padahal itu bukan untukku. 

Komentar

  1. Hidup memang penuh lika liku, sandiwara, dan kesan yg tak terduga.
    Nikmatilah hidupmu kawan, jangan sampai hawa nafsu menghalangimu untuk berlaku adil kpd dirimu sendiri yg masih banyak membutuhkan asupan ilmu yang banyak dan pengetahuan luas seperti lautan yang membentang tanpa batas yg tidak kita ketahui. Terbawa suasana kata" yg mengandung arti & harapan maka jari jemariku merespon tulisanmu mbak..:D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nice.
      Yups, benar sekali.
      Waaah, rupanya kata-kata ini bisa membawamu yaa, semoga membawamu kepada pemaknaan hidup yang positif sepaket dengan hikmah-hikmahnya, amin.
      Terimakasih sudah mampir.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Bulan September

Rasa yang Menyiksa (gores pena: Galih Ratna Puri Palupi) Semua ini tentang cinta Tak jelas, namun menyesakkan dada Galau ingin bejumpa Rindu ingin bersua Namun bertemu memungkinkan aku tuk membungkam cerita Memilih diam menikmati alirannya Tapi dosa menjadi batasnya Hati pasrah menangis dibuatnya Semua tentang cinta Yang harus datang tepat pada waktunya Tapi tak kunjung diperjelaskan Mengundang harap dan tanya keraguan Terbersit dan mengalun di hati begitu saja Tak jelas kemana arahnya Pun tak memahami duka cita menjaga diri Ya, aku menjaganya Walau kering sudah kesabaran diri Untuk acuh dengan kabar tentangnya Ce i en te a Kau

Unfollow

Rasa-rasanya aku ingin sekali memencet tombol itu. Kemudian menitipkan nafasku kepada kamu yang didamba hadirnya Kepada kamu yang ingin lebih lama menjejak di bumi Rasa-rasanya aku ingin menekan tombol itu Lalu kutitipkan rasa cinta sepaket dengan ketulusannya, kesetiaan dan kesabaran menunggu.. Kepada ia yang kamu harapkan

Bebas

Untuk Dia yang Kuinginkan Gores pena: Galih Ratna Puri Palupi Di sudut dermaga Aku terjerembab dalam lembayung senja Erat dengan perahu-perahu yang lekat dengan jerat temalinya Di sudut, tempat ribuan kristal menyelinap dalam butiran pasir Tak sempat kunyatakan Tak mampu kuungkapkan Bunga-bunga hati yang menghiasi empunya Di kepalanya menjulur kain   hijau toska Tak pernah terlihat belaian demi belaian rambutnya Lembut ku lihat lengkungan senyumnya Membersamai bintang yang membias sinarnya Diantara samudera Di sudut dermaga Dia saksikan purnama dalam temaram Ditulis dengan pena kerinduannya Tuhan, pertemukan kami di SurgaMu -Surakarta, 21 Februari 2014-