Langsung ke konten utama

Kumpulan Catatan: Resepsi Manis, Budget Minimalis

Assalamu'alaikum, happy weekend ya semuanya. Buat yang lagi sela boleh mampir menyimak catatanku nih, tentang keperluan apa aja dalam persiapan pernikahan. Buat dirimu yang memiliki keinginan dan kesiapan menikah. Wah menikah? HA? APA?

Iya. Agak ngelu atau geli gitu ya? Di mana-mana kok ngobrolinnya tentang nikah. Bikin baper. Eits..santai. Berbincang menyoal menikah jangan cuma mikirin sama siapa dan kapan gengs. Kita juga butuh ngumpulin ilmu, banyak-banyak cari tau, biar kelak bisa ngadain resepsi yang budgetnya minimal tapi hasilnya maksimal dan ga bikin pusing di kehidupan setelah menikah.Wah emang bisa? InsyaAllah. Yuk langsung simak aja ya, boleh di share nantinya. Semoga bermanfaat.

Budget itu ga melulu tentang angka, dan mahal itu relatif, semua kembali pada kebutuhan masing-masing penyelenggara.
 PRINSIP DASAR BUDGETING
  1. Lihat keuangan internal.
"Kita ada uang berapa nih..." dengan uang sejumlah itu kira-kira kita bisa bikin konsep acara seperti apa ya? Nah, dengan mengetahui kondisi keuangan internal, membantu kita untuk memilah-memilih konsep acara seperti apa agar sesuai dengan keuangan. Hal yang perlu diingat, bahwa resepsi besar belum tentu nanti pemasukannya dari luar akan besar. Tidak menjamin bakalan bisa nutup. Hehe. (Nutup di sini maksunya pemasukan dari luar bisa sama dengan biaya pengeluaran pernikahan yang telah di keluarkan. Nah, kalau pemasukannya lebih, namanya untung gengs. wkwk.).
  1. Melihat potensi internal dan eksternal.
Coba lihat potensi internal, kira-kira ada ga saudara yang bisa berkontribusi jadi MC, atau dimanfaatkan untuk ikut berperan di hal lain. Kemudian, penting juga untuk kita mencari tau tentang promo/diskon wedding service. Seperti undangan, souvenir, dan fasilitas lainnya. wkwkwk. Ini serius lho. Nah bagaimana cara memanfaatkan orang lain secara elegan? yaitu dengan tidak memintanya menurunkan harga. Karena setiap pebisnis, pasti bakalan ga suka kalau di awal udah dimintain buat nurunin harga, minta harga teman, atau malah gratisan. Kita cukup memilih list yang sesuai harga, dan ikutin aja harganya. Menurut pengalaman pemateri, pihak yang bersangkutan biasanya akan dengan sendirinya memberikan keringanan untuk acara kita.
  1. Mengatur komunikasi
Nah, ini nih yang butuh direnungkan agar bisa menciptakan keharmonisan bahtera rumah tangga di kemudian hari. Pernikahan itu acara orang tua kita. Tamu undangannya kebanyakan juga tamu orang tua kita. Jadi jangan cuma mbayangin kalau pernikahan ini cuma milik kalian berdua. Kita juga harus bisa selaraskankeinginan diri kita dan pasangan, serta keluarga dua belah pihak. Semua harus jelas tentang bagaimana nanti bentuk pernikahannya seperti apa. Kesepakatan budget dan bentuk pernikahan dibicarakan oleh keluarga kedua belah pihak di awal (saat lamaran). Minimalkan orang yang ikut campur. Jika dalam proses tersebut ada hal-hal yang sekiranya berpotensi bikin cekcok setelah pernikahan, atau ada pihak yang tidak sepakat. Mending tidak usah dilaksanakan. Karna hal tersebut akan memunculkan percikan masalah di kehidupan setelah nikah yang bikin semua kerasa ga harmonis.
Kejadian sehari-hari yang sering ditemui misalkan, kita berkeinginan agar di pernikahan tidak ada musik, namun orang tua dan keluarga cenderung menginginkannya. Nah, coba dikendorin egonya, cari jalan tengah. “Oh,boleh, tapi musik-musik yang seperti ini saja ya.” misalnya.
Atau sekedar sharing, tapi ini diluar materi kajian yak. Beberapa hari lalu ibu membicarakan konsep pernikahan anaknya teman. Konsepnya ikhwan akhwat dipisah dan diberi hijab, jadi bener-bener ga bisa saling melihat. Ibu bilang kalau saat itu ada temennya yang keribetan, karna anak beliau yang awalnya ikut sang ayah, ingin ketemu sama ibuknya. Hayo lho. Kemudian ibu juga mengutarakan pandangan tentang hal tersebut. Aku yang pengin banget menerapkan konsep yang sama, jadi tau nih, keinginan ibu itu seperti apa mengenai hal ini. Nah, jadi menurutku penting buat komunikasi tentang konsep jauh-jauh hari, agar waktu untuk mencari solusi dan alternatif lainnya lebih banyak. Masih ada waktu juga kalau mau sharing ke temen tentang kondisi ini. Karena win win solution sering ada dan menyelinap di momen ini.
  1. Mengatur ego
Ego terkadang bisa jadi bencana. Ego apa nih? ya ego untuk ngadain pernikahan sesuai mau kita sendiri, tidak mendengarkan saran keluarga besar. Padahal keluarga adalah satu-satunya 'rumah' yang nerima kita apa adanya. Kalau sama keluarga saja udah gontot-gontotan,nanti gimana kehidupan kita yang tidak bisa lepas dari mereka? Pasti ga enak deh. Jangan sampai deh, karna diri ini kekeh mempertahankan ego, ada secuil unek-unek terpendam dari pihak pasangan atau keluarga besar kita yang membuat ketidakharmonisan di kemudian hari. Na'udzubillah. 

Pernikahan hanya sehari dua hari. Berumah tangga seumur hidup. Gosip pernikahan ± 1 tahun. Jadi coba atur lagi egonya. Bikin kesepakatan dengan pihak keluarga. InsyaAllah, apapun konsepnya, jika sudah klik dengan pihak  keluarga, kita akan lebih ringan menyambut terpaan gosip dari luar sana dan segala resiko-resikonya. 
  1. Perlu untuk sama-sama mengetahui tabungan pribadi/pasangan
  2. Anggaran dari orang tua (kedua belah pihak)
  3. Kalau bisa jangan sampai berhutang

HAL YANG SUSAH DIUTAK-ATIK
1.      Catering
-       Hitungan umum, porsi catering= 2 x jumlah undangan
-       Tambahkan untuk porsi keluarga
-       Presentase ketidak hadiran 10-15%
-       Buffet vs stall (gubugan) 60:40, kalau malem 50:50
-       Rata-rata orang makan 4-5 gubugan
-       Perbanyak jumlah bukan varian
-       Untuk buffet, nasi tidak perlu full porsi, karena sekarang semakin banyak yang ga makan / mengurangi nasi.
2.      Petugas KUA
-       AKAD di KUA : gratis
-       Mengundang penghulu: 600.000 (Menurut PP nomor 19 tahun 2015)
3.      Undangan
-       Undangan merupakan perwajahan acara.
-       Kenapa  butuh undangan cetak? Karena untuk kalangan orang tua kita yang generasi X, undangan cetak adalah wujud penghormatan kita kepada yang bersangkutan.
-       Soft-cover – hardcover
-       Jumlah tamu pasti membengkak, jadi pesanlah dengan jumlah yang lebih.
-       Undangan bukan barang instan, tidak bisa langsung jadi dalam sehari.
-       Untuk pernikahan era ini, ada dua opsi undangan online dan undangan cetak.
4.      Dokumentasi
-       Bukan Cuma sekedar jepret-jepret. Karena hasil dari dokumentasi ini nantinya akan jadi bukti visual untuk bahan bercerita dengan keluarga.
-       Harga mahal sepadan dengan hasil dan resiko.
-       Pilih sesuai dengan kemampuan ±≥3juta.
5.      Tempat
-       Rumah vs Gedung vs Hoel
-       Booking tempat minimal 6 bulan sebelum hari-H
-       Periksa fasilitas gedung
-       Periksa alternatif pilihan lain seperti café, galeri seni, dll.
-       Indoor/Outdoor
6.      Mahar
Semakin mudah, semakin baik.

HAL YANG RELATIF MUDAH DIUTAK-ATIK 
  1.  Gaun pengantin
  2.  Dekorasi pelaminan 
  3.  Konsep/Tema pernikahan
  4.   Souvenir 
  5.   Hiburan
  6.  MC 
  7. Seserahan
  8. Uang Panai/Pasok Tukon
  9. Atribut Pernikahan Adat
  10. Rules pesta 
Apapun yang bisa dipersiapkan sendiri, bisa dicicil jauh-jauh hari. 

"Fakta bahwa menikah di Indonesia itu mahal memang tidak bisa dipungkiri, tapi kita bisa menyiasati dengan banyak ingin tahu, banyak cari tahu, dan banyak berlari.”–Bang Zia Ul-Haq

Nah, jadi itu teman-teman materi saat kajian kemarin. Semoga bermanfaat ya! Oiya, teman-teman. Sekarang ini banyak sekali ya kajian-kajian. Akses kita untuk mengumpulkan ilmu jadi lebih mudah. Tinggal dari kitanya aja mau apa enggak. Nah tapi, dari hasil diskusi sama teman, kadang ternyata malah ada beberapa yang bingung karna menemui perbedaan antara pembicara satu dengan yang lain. Jadi, penting juga sebenernya buat diri kita mengkaji ulang secara langsung dari sumbernya. Hehehe. 
Selamat mengumpulkan bekal untuk kehidupan di negeri akhirat ya, teman-teman!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Duhai, tahukah kamu?

Bahwa sebagian besar wanita itu pencemburu. Tidak penting nantinya 'kamu' dengan siapa. Yang terpenting adalah aku menyemogakan dirimu agar suatu saat nanti jika telah ada yang mendampingi, kau mengerti bagaimana cara menjaga hatinya. Duhai, pahamkah dirimu? Betapa tegarnya seorang wanita yang tersenyum Saat seorang yang dicintainya bercengkrama dengan 'teman'nya Saat seorang yang dicintainya menceritakan seorang perempuan selain ibunya Duhai, mau mengertikah kamu? Betapa teguhnya perasaan wanita Saat ia memahami, dirinya tak diperjuangkan Namun masih berusaha untuk menjaga hati Adamnya

Matematika Kehidupan

Sejak kecil sebelum rumus matematika semakin kompleks, kita dikenalkan lebih dulu dengan ping para lan suda (kali, bagi, tambah, kurang) Saat aku punya dua apel, apel itu akan habis pabila kubagikan kepada dua orang temenku. 2-2 = 0. Tapi. Sebentar. Bukankah 2-2=2? 2 dari mana? Dari pahala yang Allah berikan, insyaAllah Eh tapi jangan pakai rumus ini ya kalau lagi ngerjain soal matematika di sekolah.

Hai, Apa Kabar?

Hai, apa kabar yang sudah lama tak jumpa? Apa kabar yang sudah enggan menyapaku? Eh, atau aku yang enggan menyapa. Maafkan aku. Jika kamu rasa ada yang berbeda denganku. Bertahan atau pergi, adalah hak. Pun, aku takkan memaksamu bertahan, jika dirasa tidak nyaman. Di sebuah relasi yang membuatku asing, tak tau menau disaat yang lain diberi tau, sungguh membuatku jadi lebih enggan. Eh tapi itu hanya enggan. Aku akan tetap bertahan, setidaknya dipertemuan antara mataku dan pergantian malam, namamu selalu kudoakan. Maafkan aku. Jika tak lagi selalu ada. Menyambut hari² pentingmu. Yang jelas, aku selalu senang setiap tahu bahwa kamu dan keluargamu sehat.  Maafkan aku. Belum banyak mengirimkan banyak hadiah. Tapi yakinlah, bahwa itu bukan satu²nya simbolis tuk menandakan rasa sayangku. Semoga kabarmu baik² saja. Aku di sini sedang mencukupkan diri. Sedang memenuhi diri. Suatu saat, rasanya ingin kembali lagi bercengkrama seperti dulu. Jika masih diizinkan masuk.