Langsung ke konten utama
Aku ingin jujur pada diriku. Tanpa manipulasi dan represi. Sebut saja aku dengan ia. 
Rindu sering menguasai dirinya. Bahkan saat ia sadar bahwa ini tak boleh dibiarkan. Memang bukan salah rindu salah ia dalam menyikapi. Sebagai penganut humanistik, aq sering membebaskan perasaannya agar bebas tak tertekan. 

Ia rindu sekali dengannya. Meski dia tau memang belum semestinya. Aku tak kuasa menahannya untuk tak rindu. Siapa lagi yang bisa membebaskannya selain aku? 

Ia bingung saat rindu. Bingung. Meski tau tempat terbaik dalam bercerita adalah kepada Rabbnya. Kepada pemilik hati seluruh manusia. 

Ia rindu pada seseorang. Rindu sekali. Rindu saat2 ia dihibungi olehnya. Senyum-senyum takut, karna sadar bahwa belum waktunya untuk bersua. Rindu hal hal random yang tak disangka dilakukan olehnya. Apalagi saat saat seperti ini. Teman-temannya mulai jauh, bahkan tak ada yg menanyakan kabarnya. Saat mulai membutuhkan. 

Ia rindu, sambil memungkiri seseorang itu mungkin sudah meniadakannya. 
Ia rindu, karna tak kuasa lagi mengulanginya. 

Ia tak ingin menunggu. Tak ingin ditunggu. Tak ingin bereuforia dengan bahagia fana. Oleh sebab itu lebih baik merindu saja. Daripada mengulangi hal yang jelas salah. 

Ia mencari penguatan. Namun ternyata yang lain tak ubahnya. Ada yang menunggu. Ada yang berinteraksi bahkan berdua-duaan dalam satu kendaraan. Semakin dekat semakin ia tak kuat. Ia harus pergi. Dan memilih pergi agar lebih kuat.

Sekarang ia rindu. Sekarang ia butuh. Sekarang ia hanya bisa terduduk lesu,  menghubunginya via doa. 

Ia tak ingin berharap. Ia ingin berserah. 

Ia tau itu. Ia sadar itu. 

Namun ia resah. Ingin berkata sudah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Bulan September

Rasa yang Menyiksa (gores pena: Galih Ratna Puri Palupi) Semua ini tentang cinta Tak jelas, namun menyesakkan dada Galau ingin bejumpa Rindu ingin bersua Namun bertemu memungkinkan aku tuk membungkam cerita Memilih diam menikmati alirannya Tapi dosa menjadi batasnya Hati pasrah menangis dibuatnya Semua tentang cinta Yang harus datang tepat pada waktunya Tapi tak kunjung diperjelaskan Mengundang harap dan tanya keraguan Terbersit dan mengalun di hati begitu saja Tak jelas kemana arahnya Pun tak memahami duka cita menjaga diri Ya, aku menjaganya Walau kering sudah kesabaran diri Untuk acuh dengan kabar tentangnya Ce i en te a Kau

Unfollow

Rasa-rasanya aku ingin sekali memencet tombol itu. Kemudian menitipkan nafasku kepada kamu yang didamba hadirnya Kepada kamu yang ingin lebih lama menjejak di bumi Rasa-rasanya aku ingin menekan tombol itu Lalu kutitipkan rasa cinta sepaket dengan ketulusannya, kesetiaan dan kesabaran menunggu.. Kepada ia yang kamu harapkan

Bebas

Untuk Dia yang Kuinginkan Gores pena: Galih Ratna Puri Palupi Di sudut dermaga Aku terjerembab dalam lembayung senja Erat dengan perahu-perahu yang lekat dengan jerat temalinya Di sudut, tempat ribuan kristal menyelinap dalam butiran pasir Tak sempat kunyatakan Tak mampu kuungkapkan Bunga-bunga hati yang menghiasi empunya Di kepalanya menjulur kain   hijau toska Tak pernah terlihat belaian demi belaian rambutnya Lembut ku lihat lengkungan senyumnya Membersamai bintang yang membias sinarnya Diantara samudera Di sudut dermaga Dia saksikan purnama dalam temaram Ditulis dengan pena kerinduannya Tuhan, pertemukan kami di SurgaMu -Surakarta, 21 Februari 2014-