Langsung ke konten utama

Bagaimana hubunganmu dengan Tuhan?

Mungkin kita sedang berjarak. Jauh sekali.
Dampaknya, temaram acuh padaku.
Lalu lalang sepeda motor dan jalanan kota enggan tuk dinikmati, enggan tuk dipahami.
Padahal sudah kusuguhkan waktuku.
Berkumpul membuat gulana terasa menyiram
Betapa tidak, jika setiap temu selalu mencipta tanda seru
Tak bisakah kita pahami satu persatu bagaimana dirimu dan diriku.
Ah, mungkin karena aku dan Dia sedang berjarak. 

Seminggu yang lalu hingga sekarang. Aku berasa seperti magnet. Semua hal mendekat, kemudian menumpuk seperti gunung. Bergemuruh di bagian bawah kepalaku. Jikalau boleh berkata jika. Sayangnya kumemilihnya tidak. Membiarkan satu per satu kutuntaskan. Aku paham semua aktivitas yang lain sangat berharga, sangat penting dan sayang untuk ditinggalkan. Penelitianmu, organisasimu, dan semacamnya. Itu yang membuatku tidak memberatkanmu. Aku terlihat free, bukan?

Hingga suwaktu waktu aku merasakan hal yang lebih parah dari itu. Aku tidak merasa berjalan saat aku berjalan. Yang ada dipikiranku hanyalah bagaimana tuntutan orang-orang itu selesai dan berhenti. Di suatu seminar, aku sempat mendapat tempat yang teduh. Teduh dari tuntutan yang deras menghujaniku, aku yang saat itu butuh sesekali untuk dipahami.
"Dek Galih, apa kabar?" Sapa seorang pembicara Seminar.
Aku mendekati tempat duduknya dengan napas terengah karena baru saja berlari dari lantai 1 ke lantai 4.
Dengan yakin, aku jawab, "Aku sedang tidak baik-baik saja,Kak!" meskipun pada akhirnya aku mengurungkan niat untuk menceritakan semua. Waktu dan tempatnya tidak tepat.
Tak apa. Setidaknya ngobrol bersama kakak ini membuatku lebih tenang.

Ah, mungkin karena aku dan Dia (masih) berjarak.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Bulan September

Rasa yang Menyiksa (gores pena: Galih Ratna Puri Palupi) Semua ini tentang cinta Tak jelas, namun menyesakkan dada Galau ingin bejumpa Rindu ingin bersua Namun bertemu memungkinkan aku tuk membungkam cerita Memilih diam menikmati alirannya Tapi dosa menjadi batasnya Hati pasrah menangis dibuatnya Semua tentang cinta Yang harus datang tepat pada waktunya Tapi tak kunjung diperjelaskan Mengundang harap dan tanya keraguan Terbersit dan mengalun di hati begitu saja Tak jelas kemana arahnya Pun tak memahami duka cita menjaga diri Ya, aku menjaganya Walau kering sudah kesabaran diri Untuk acuh dengan kabar tentangnya Ce i en te a Kau

Unfollow

Rasa-rasanya aku ingin sekali memencet tombol itu. Kemudian menitipkan nafasku kepada kamu yang didamba hadirnya Kepada kamu yang ingin lebih lama menjejak di bumi Rasa-rasanya aku ingin menekan tombol itu Lalu kutitipkan rasa cinta sepaket dengan ketulusannya, kesetiaan dan kesabaran menunggu.. Kepada ia yang kamu harapkan

Bebas

Untuk Dia yang Kuinginkan Gores pena: Galih Ratna Puri Palupi Di sudut dermaga Aku terjerembab dalam lembayung senja Erat dengan perahu-perahu yang lekat dengan jerat temalinya Di sudut, tempat ribuan kristal menyelinap dalam butiran pasir Tak sempat kunyatakan Tak mampu kuungkapkan Bunga-bunga hati yang menghiasi empunya Di kepalanya menjulur kain   hijau toska Tak pernah terlihat belaian demi belaian rambutnya Lembut ku lihat lengkungan senyumnya Membersamai bintang yang membias sinarnya Diantara samudera Di sudut dermaga Dia saksikan purnama dalam temaram Ditulis dengan pena kerinduannya Tuhan, pertemukan kami di SurgaMu -Surakarta, 21 Februari 2014-