Langsung ke konten utama

Untuk yang Selama Ini, Menjelma menjadi Rasa Cinta



Salah selama ini jika kamu mencariku untuk sekedar menemukan dan mendapatkan harta karun. Karena aku tak memilikinya. Aku hanya punya senyuman. Itu saja hanya titipan. Titipan dari Tuhan, untuk mempererat Ukhuwah Islamiyah.

Jangan pernah pergi meninggalkan orang dengan segenap keterbatasan ini
Matanya yang masih buta
Bibirnya yang masih bisu
dan telinganya yang masih tuli
Kulitnya yang mungkin masih tak sanggup merasa belai angin di sekelilingnya
Memerlukanmu tuk sekedar mengajariku memaknai hidup ini
Mempersiapkan perbekalan diri
Jangan pernah pergi meninggalkan diammu
Membekas menempa ribuan tanda tanya dan rasa bersalahku
Jangan siksa aku dengan diammu, mohon
Tepuk pundakku dan sadarkanlah
Maafkan khilaf ini
Dan bertahanlah, menjadi sahabatku
Abadi
di Surga nanti
Biar kita persiapkan perbekalan itu, bersama.
Aku mencintaimu karena Allah

Untuk semua yang dipertemukan denganku melalui sebuah perkenalan, dariku yang tak bisa banyak bicara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Bulan September

Rasa yang Menyiksa (gores pena: Galih Ratna Puri Palupi) Semua ini tentang cinta Tak jelas, namun menyesakkan dada Galau ingin bejumpa Rindu ingin bersua Namun bertemu memungkinkan aku tuk membungkam cerita Memilih diam menikmati alirannya Tapi dosa menjadi batasnya Hati pasrah menangis dibuatnya Semua tentang cinta Yang harus datang tepat pada waktunya Tapi tak kunjung diperjelaskan Mengundang harap dan tanya keraguan Terbersit dan mengalun di hati begitu saja Tak jelas kemana arahnya Pun tak memahami duka cita menjaga diri Ya, aku menjaganya Walau kering sudah kesabaran diri Untuk acuh dengan kabar tentangnya Ce i en te a Kau

Unfollow

Rasa-rasanya aku ingin sekali memencet tombol itu. Kemudian menitipkan nafasku kepada kamu yang didamba hadirnya Kepada kamu yang ingin lebih lama menjejak di bumi Rasa-rasanya aku ingin menekan tombol itu Lalu kutitipkan rasa cinta sepaket dengan ketulusannya, kesetiaan dan kesabaran menunggu.. Kepada ia yang kamu harapkan

Bebas

Untuk Dia yang Kuinginkan Gores pena: Galih Ratna Puri Palupi Di sudut dermaga Aku terjerembab dalam lembayung senja Erat dengan perahu-perahu yang lekat dengan jerat temalinya Di sudut, tempat ribuan kristal menyelinap dalam butiran pasir Tak sempat kunyatakan Tak mampu kuungkapkan Bunga-bunga hati yang menghiasi empunya Di kepalanya menjulur kain   hijau toska Tak pernah terlihat belaian demi belaian rambutnya Lembut ku lihat lengkungan senyumnya Membersamai bintang yang membias sinarnya Diantara samudera Di sudut dermaga Dia saksikan purnama dalam temaram Ditulis dengan pena kerinduannya Tuhan, pertemukan kami di SurgaMu -Surakarta, 21 Februari 2014-