Langsung ke konten utama

Untuk yang Selama Ini, Menjelma menjadi Rasa Cinta



Salah selama ini jika kamu mencariku untuk sekedar menemukan dan mendapatkan harta karun. Karena aku tak memilikinya. Aku hanya punya senyuman. Itu saja hanya titipan. Titipan dari Tuhan, untuk mempererat Ukhuwah Islamiyah.

Jangan pernah pergi meninggalkan orang dengan segenap keterbatasan ini
Matanya yang masih buta
Bibirnya yang masih bisu
dan telinganya yang masih tuli
Kulitnya yang mungkin masih tak sanggup merasa belai angin di sekelilingnya
Memerlukanmu tuk sekedar mengajariku memaknai hidup ini
Mempersiapkan perbekalan diri
Jangan pernah pergi meninggalkan diammu
Membekas menempa ribuan tanda tanya dan rasa bersalahku
Jangan siksa aku dengan diammu, mohon
Tepuk pundakku dan sadarkanlah
Maafkan khilaf ini
Dan bertahanlah, menjadi sahabatku
Abadi
di Surga nanti
Biar kita persiapkan perbekalan itu, bersama.
Aku mencintaimu karena Allah

Untuk semua yang dipertemukan denganku melalui sebuah perkenalan, dariku yang tak bisa banyak bicara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Duhai, tahukah kamu?

Bahwa sebagian besar wanita itu pencemburu. Tidak penting nantinya 'kamu' dengan siapa. Yang terpenting adalah aku menyemogakan dirimu agar suatu saat nanti jika telah ada yang mendampingi, kau mengerti bagaimana cara menjaga hatinya. Duhai, pahamkah dirimu? Betapa tegarnya seorang wanita yang tersenyum Saat seorang yang dicintainya bercengkrama dengan 'teman'nya Saat seorang yang dicintainya menceritakan seorang perempuan selain ibunya Duhai, mau mengertikah kamu? Betapa teguhnya perasaan wanita Saat ia memahami, dirinya tak diperjuangkan Namun masih berusaha untuk menjaga hati Adamnya

Matematika Kehidupan

Sejak kecil sebelum rumus matematika semakin kompleks, kita dikenalkan lebih dulu dengan ping para lan suda (kali, bagi, tambah, kurang) Saat aku punya dua apel, apel itu akan habis pabila kubagikan kepada dua orang temenku. 2-2 = 0. Tapi. Sebentar. Bukankah 2-2=2? 2 dari mana? Dari pahala yang Allah berikan, insyaAllah Eh tapi jangan pakai rumus ini ya kalau lagi ngerjain soal matematika di sekolah.

Hai, Apa Kabar?

Hai, apa kabar yang sudah lama tak jumpa? Apa kabar yang sudah enggan menyapaku? Eh, atau aku yang enggan menyapa. Maafkan aku. Jika kamu rasa ada yang berbeda denganku. Bertahan atau pergi, adalah hak. Pun, aku takkan memaksamu bertahan, jika dirasa tidak nyaman. Di sebuah relasi yang membuatku asing, tak tau menau disaat yang lain diberi tau, sungguh membuatku jadi lebih enggan. Eh tapi itu hanya enggan. Aku akan tetap bertahan, setidaknya dipertemuan antara mataku dan pergantian malam, namamu selalu kudoakan. Maafkan aku. Jika tak lagi selalu ada. Menyambut hari² pentingmu. Yang jelas, aku selalu senang setiap tahu bahwa kamu dan keluargamu sehat.  Maafkan aku. Belum banyak mengirimkan banyak hadiah. Tapi yakinlah, bahwa itu bukan satu²nya simbolis tuk menandakan rasa sayangku. Semoga kabarmu baik² saja. Aku di sini sedang mencukupkan diri. Sedang memenuhi diri. Suatu saat, rasanya ingin kembali lagi bercengkrama seperti dulu. Jika masih diizinkan masuk.