Langsung ke konten utama

Bebas #1



Dalam Sajak, Kuselipkan Cinta(Untukmu)
Gores pena: Galih Ratna Puri Palupi

Hari ini, kedua mataku terasa damai
Ketika di atas sana, pelangi melengkungkan warna keagungan
Berawal dari putih, tercipta jingga, dan terkumpul merah, hijau, biru

Hari ini, kedua telinga melebarkan daunnya
Mendengar ribuan melodi cinta yang sendu
Ciptaan para penyair, yang sajaknya membuat hatiku terpikat

Jika pelangi pudar, biar kuganti warna-warni syair Sang Pujangga
Tapi, selama namaNya masih kusebut
Aku yakin, segala yang membuatnya indah, tidak akan pernah pupus
Seperti bahagianya bulan menerima kilauan sinar bintang
Dalam kesendirian, merindukan pelukan Mentari
Dan di antara malam, biar kutitipkan rindu dalam gelapnya

Ah, apa aku tak punya bait lain, selain sajak kerinduan?
Cukup
Tak perlu ku berkeluh memikirkan bait dan sajak untuk menjadi seirama
Sehati dengan para pembacanya

Yang terpenting,
Dia Maha Tahu, siapa yang kusebut namanya, dalam doaku

_Bantul, 6 Februari 2014_

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Duhai, tahukah kamu?

Bahwa sebagian besar wanita itu pencemburu. Tidak penting nantinya 'kamu' dengan siapa. Yang terpenting adalah aku menyemogakan dirimu agar suatu saat nanti jika telah ada yang mendampingi, kau mengerti bagaimana cara menjaga hatinya. Duhai, pahamkah dirimu? Betapa tegarnya seorang wanita yang tersenyum Saat seorang yang dicintainya bercengkrama dengan 'teman'nya Saat seorang yang dicintainya menceritakan seorang perempuan selain ibunya Duhai, mau mengertikah kamu? Betapa teguhnya perasaan wanita Saat ia memahami, dirinya tak diperjuangkan Namun masih berusaha untuk menjaga hati Adamnya

Matematika Kehidupan

Sejak kecil sebelum rumus matematika semakin kompleks, kita dikenalkan lebih dulu dengan ping para lan suda (kali, bagi, tambah, kurang) Saat aku punya dua apel, apel itu akan habis pabila kubagikan kepada dua orang temenku. 2-2 = 0. Tapi. Sebentar. Bukankah 2-2=2? 2 dari mana? Dari pahala yang Allah berikan, insyaAllah Eh tapi jangan pakai rumus ini ya kalau lagi ngerjain soal matematika di sekolah.

Hai, Apa Kabar?

Hai, apa kabar yang sudah lama tak jumpa? Apa kabar yang sudah enggan menyapaku? Eh, atau aku yang enggan menyapa. Maafkan aku. Jika kamu rasa ada yang berbeda denganku. Bertahan atau pergi, adalah hak. Pun, aku takkan memaksamu bertahan, jika dirasa tidak nyaman. Di sebuah relasi yang membuatku asing, tak tau menau disaat yang lain diberi tau, sungguh membuatku jadi lebih enggan. Eh tapi itu hanya enggan. Aku akan tetap bertahan, setidaknya dipertemuan antara mataku dan pergantian malam, namamu selalu kudoakan. Maafkan aku. Jika tak lagi selalu ada. Menyambut hari² pentingmu. Yang jelas, aku selalu senang setiap tahu bahwa kamu dan keluargamu sehat.  Maafkan aku. Belum banyak mengirimkan banyak hadiah. Tapi yakinlah, bahwa itu bukan satu²nya simbolis tuk menandakan rasa sayangku. Semoga kabarmu baik² saja. Aku di sini sedang mencukupkan diri. Sedang memenuhi diri. Suatu saat, rasanya ingin kembali lagi bercengkrama seperti dulu. Jika masih diizinkan masuk.