Langsung ke konten utama

Postingan

Teruntuk dan Dari Diri Sendiri

Kuhanya ingin duduk, diam membisu. Membiarkan pikiranku mencari jawab atas sesuatu. Ah, tak harus menemukan jawabannya, hanya kuizinkan saja saat ini untuk keluar Tanpa kutahan "Gaboleh mikir kayak gitu!" Kuingin duduk. Mengakui keresahanku. Atas tanyaku selama ini, yang selalu kucari Yang lebih berani kuutarakan di depan cermin Maafku kepada diri. Karena telah melarangmu melakukan banyak hal. Saat kamu ingin bernyanyi leluasa, kubilang jangan. Saat kamu ingin bersedih, kubilang kamu harus kuat dan tanpa sadar kamu menahan banyak gundah Tanpa ku tuntun mengurainya satu per satu. Aku bahkan tak mengizinkanmu tuk leluasa berkomunikasi dengan orang yang sangat kau cintai, dulu Aku selalu meminta dirimu untuk jadi yang sempurna dan ideal Bahkan sampai dirimu yakin telah menemukan orang yang kau cari, kutetap menahanmu tuk tidak berinteraksi Hingga akhirnya kamu menerima kenyataan bahwa dia benar-benar pergi Tidak ada dia lagi di hidupmu, kini, Maafku ke...

Kuhitung saja Jemari ini, sampai Kapalmu Menepi

Hujan reda Kupikir ini waktunya menyapa lara  Menjemurnya di bawah terik Biar tak jadi semakin pelik oleh resah yang kian basah Aku menghitung hari demi hari via jemari Tak pernah ada sedikit onak duri yang melukai Hanya jadi kekhawatiran yang kuyakini Bukan,  ini bukan tentang engkau Ini tentang kita yang selalu kunanti di tirai pagi  Belajar mengaduk cinta lewat secangkir teh hangat,  Kadang aku hanya ingin hidup denganmu Bahkan sebelum hujan reda Tak apa jika memang harus tabah dalam basah dekapanmu Menyajikan tawa dari gundah saat kemarin ku resah oleh jauhmu Ku ingin nyaman pada dingin ini dalam peluk hangat perasaanmu,  untukku.  Atau sesekali belajar dari ibumu merajut senyum di selembar yang engkau lesu Engkau,  yang kini jadi cahaya pagi diri ini. -Bantul,  dalam gerimis rindu yang ingin kualirkan hingga depan rumah ibumu,  9 Mei 2020-

Kertas Biru

Dulu,  perasaan itu sama-sama rebah. Bahkan hingga keputusanku kala itu, hingga kini akupun tak berubah.  Sampai di sebuah proses di mana petunjuk-petunjuk itu rekah. Aku tau kamu seseorang yang baik. Bahkan apapun yg akhirnya terjadi, kau tetap baik di mataku.  Sebelum jauh melangkah,  kita memang harusnya lebih dulu berbenah. Kini tak harus selalu dirimu orang itu. Aku akan melangkah,,menuju jalan yang lebih berkah.  Terimakasih sudah pernah singgah.

Menuju Indonesia Inklusif 2030

Ada agenda menarik di sela carut-marutnya agenda perpolitikan negeri ini, Indonesia. Dalam rangka mewujudkan Indonesia Inklusif di tahun 2030, SIGAB (Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel) menggelar acara Temu Inklusi ke-3 bersama Program Peduli Foundation yang dilaksanakan di Desa Plembutan, Playen, Gunung Kidul pada tanggal 22 sampai dengan 25 Oktober 2018. Desa ini telah ditetapkan menjadi Desa Inklusi. Hal tersebut dapat dilihat dari perhatiannya yang lebih terhadap para difabel, mulai dari melibatkan mereka dalam setiap pembuatan kebijakan pemerintah desa hingga memfasilitasi mereka agar mudah berpartisipasi memajukan desa. Acara ini melibatkan masyarakat luas seluruh Indonesia, terutama mereka yang memiliki kepedulian lebih terhadap isu disabilitas. Aroma kolaborasi terasa pekat saat semua kalangan difabel maupun non difabel berkumpul menjadi satu kalangan yang disebut manusia. Aman dari eksklusifitas yang seringnya mendiskriminasi kalangan-kalangan difabel, memandang ...