Langsung ke konten utama

Kuhitung saja Jemari ini, sampai Kapalmu Menepi

Hujan reda
Kupikir ini waktunya menyapa lara 
Menjemurnya di bawah terik
Biar tak jadi semakin pelik oleh resah yang kian basah

Aku menghitung hari demi hari via jemari
Tak pernah ada sedikit onak duri yang melukai
Hanya jadi kekhawatiran yang kuyakini

Bukan,  ini bukan tentang engkau
Ini tentang kita yang selalu kunanti di tirai pagi 
Belajar mengaduk cinta lewat secangkir teh hangat, 
Kadang aku hanya ingin hidup denganmu
Bahkan sebelum hujan reda
Tak apa jika memang harus tabah dalam basah dekapanmu
Menyajikan tawa dari gundah saat kemarin ku resah oleh jauhmu
Ku ingin nyaman pada dingin ini dalam peluk hangat perasaanmu,  untukku. 
Atau sesekali belajar dari ibumu merajut senyum di selembar yang engkau lesu

Engkau,  yang kini jadi cahaya pagi diri ini.

-Bantul,  dalam gerimis rindu yang ingin kualirkan hingga depan rumah ibumu,  9 Mei 2020-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Bulan September

Rasa yang Menyiksa (gores pena: Galih Ratna Puri Palupi) Semua ini tentang cinta Tak jelas, namun menyesakkan dada Galau ingin bejumpa Rindu ingin bersua Namun bertemu memungkinkan aku tuk membungkam cerita Memilih diam menikmati alirannya Tapi dosa menjadi batasnya Hati pasrah menangis dibuatnya Semua tentang cinta Yang harus datang tepat pada waktunya Tapi tak kunjung diperjelaskan Mengundang harap dan tanya keraguan Terbersit dan mengalun di hati begitu saja Tak jelas kemana arahnya Pun tak memahami duka cita menjaga diri Ya, aku menjaganya Walau kering sudah kesabaran diri Untuk acuh dengan kabar tentangnya Ce i en te a Kau

Unfollow

Rasa-rasanya aku ingin sekali memencet tombol itu. Kemudian menitipkan nafasku kepada kamu yang didamba hadirnya Kepada kamu yang ingin lebih lama menjejak di bumi Rasa-rasanya aku ingin menekan tombol itu Lalu kutitipkan rasa cinta sepaket dengan ketulusannya, kesetiaan dan kesabaran menunggu.. Kepada ia yang kamu harapkan

Bebas

Untuk Dia yang Kuinginkan Gores pena: Galih Ratna Puri Palupi Di sudut dermaga Aku terjerembab dalam lembayung senja Erat dengan perahu-perahu yang lekat dengan jerat temalinya Di sudut, tempat ribuan kristal menyelinap dalam butiran pasir Tak sempat kunyatakan Tak mampu kuungkapkan Bunga-bunga hati yang menghiasi empunya Di kepalanya menjulur kain   hijau toska Tak pernah terlihat belaian demi belaian rambutnya Lembut ku lihat lengkungan senyumnya Membersamai bintang yang membias sinarnya Diantara samudera Di sudut dermaga Dia saksikan purnama dalam temaram Ditulis dengan pena kerinduannya Tuhan, pertemukan kami di SurgaMu -Surakarta, 21 Februari 2014-