Langsung ke konten utama

Kuhitung saja Jemari ini, sampai Kapalmu Menepi

Hujan reda
Kupikir ini waktunya menyapa lara 
Menjemurnya di bawah terik
Biar tak jadi semakin pelik oleh resah yang kian basah

Aku menghitung hari demi hari via jemari
Tak pernah ada sedikit onak duri yang melukai
Hanya jadi kekhawatiran yang kuyakini

Bukan,  ini bukan tentang engkau
Ini tentang kita yang selalu kunanti di tirai pagi 
Belajar mengaduk cinta lewat secangkir teh hangat, 
Kadang aku hanya ingin hidup denganmu
Bahkan sebelum hujan reda
Tak apa jika memang harus tabah dalam basah dekapanmu
Menyajikan tawa dari gundah saat kemarin ku resah oleh jauhmu
Ku ingin nyaman pada dingin ini dalam peluk hangat perasaanmu,  untukku. 
Atau sesekali belajar dari ibumu merajut senyum di selembar yang engkau lesu

Engkau,  yang kini jadi cahaya pagi diri ini.

-Bantul,  dalam gerimis rindu yang ingin kualirkan hingga depan rumah ibumu,  9 Mei 2020-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Duhai, tahukah kamu?

Bahwa sebagian besar wanita itu pencemburu. Tidak penting nantinya 'kamu' dengan siapa. Yang terpenting adalah aku menyemogakan dirimu agar suatu saat nanti jika telah ada yang mendampingi, kau mengerti bagaimana cara menjaga hatinya. Duhai, pahamkah dirimu? Betapa tegarnya seorang wanita yang tersenyum Saat seorang yang dicintainya bercengkrama dengan 'teman'nya Saat seorang yang dicintainya menceritakan seorang perempuan selain ibunya Duhai, mau mengertikah kamu? Betapa teguhnya perasaan wanita Saat ia memahami, dirinya tak diperjuangkan Namun masih berusaha untuk menjaga hati Adamnya

Matematika Kehidupan

Sejak kecil sebelum rumus matematika semakin kompleks, kita dikenalkan lebih dulu dengan ping para lan suda (kali, bagi, tambah, kurang) Saat aku punya dua apel, apel itu akan habis pabila kubagikan kepada dua orang temenku. 2-2 = 0. Tapi. Sebentar. Bukankah 2-2=2? 2 dari mana? Dari pahala yang Allah berikan, insyaAllah Eh tapi jangan pakai rumus ini ya kalau lagi ngerjain soal matematika di sekolah.

Hai, Apa Kabar?

Hai, apa kabar yang sudah lama tak jumpa? Apa kabar yang sudah enggan menyapaku? Eh, atau aku yang enggan menyapa. Maafkan aku. Jika kamu rasa ada yang berbeda denganku. Bertahan atau pergi, adalah hak. Pun, aku takkan memaksamu bertahan, jika dirasa tidak nyaman. Di sebuah relasi yang membuatku asing, tak tau menau disaat yang lain diberi tau, sungguh membuatku jadi lebih enggan. Eh tapi itu hanya enggan. Aku akan tetap bertahan, setidaknya dipertemuan antara mataku dan pergantian malam, namamu selalu kudoakan. Maafkan aku. Jika tak lagi selalu ada. Menyambut hari² pentingmu. Yang jelas, aku selalu senang setiap tahu bahwa kamu dan keluargamu sehat.  Maafkan aku. Belum banyak mengirimkan banyak hadiah. Tapi yakinlah, bahwa itu bukan satu²nya simbolis tuk menandakan rasa sayangku. Semoga kabarmu baik² saja. Aku di sini sedang mencukupkan diri. Sedang memenuhi diri. Suatu saat, rasanya ingin kembali lagi bercengkrama seperti dulu. Jika masih diizinkan masuk.