Langsung ke konten utama
Aku tidak pernah memberi batas diri untuk menerima segala kurangmu.
Tapi entah kenapa rasanya aku butuh kamu untuk membuatku merasa aman.
Dan ternyata kamu tidak mampu.

Aku baru sadar di situ batas mampuku. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yang Tak Terlupakan

Assalamu'alaikum.wr.wb (WAJIB dijawab ya!)  Hai ^^ Selamat hari Minggu malam. Kau sedang apa? Aku  baru saja turun dari kereta dan berbincang ria dengan adik tingkat. Kemudian mengamati heningnya kota Solo, tepatnya di Stasiun Balapan. Tanahnya yang basah dan temaram lampunya, membuat pena dalam pikirku bicara. NOSTALGIA.  Entah tiba-tiba aku ingat hadiah yang begitu berkesan ini. Hadiah dari teman, sahabat, saudara dan guru, yang bernama Mutiara Ayu Miftakhul Hayati (Hai, Ayu! # Long time no see.). Dia, teman SMA-ku di SMA N 2 Bantul Yogyakarta. Teman di kelas X7, XI A 4, XII A4. Yups. Hobi yang paling aku tau, MENULIS. Warna kesukaannya BIRU, dan hewan favoritnya kucing :3 Dia lihai sekali berpesan dengan penanya. Dia pandai membaca puisi, menulis cerpen, karya ilmiah, qira'ah. Huaaa..kagum. Gag nyangka, orang sehina aku bisa ketemu teman sehebat dia. Alhamdulillah, dia ndak hanya mampir di kehidupanku, tapi bersemayam. Ya, berlanjut menjadi persaudaraan h...

Hai, Apa Kabar?

Hai, apa kabar yang sudah lama tak jumpa? Apa kabar yang sudah enggan menyapaku? Eh, atau aku yang enggan menyapa. Maafkan aku. Jika kamu rasa ada yang berbeda denganku. Bertahan atau pergi, adalah hak. Pun, aku takkan memaksamu bertahan, jika dirasa tidak nyaman. Di sebuah relasi yang membuatku asing, tak tau menau disaat yang lain diberi tau, sungguh membuatku jadi lebih enggan. Eh tapi itu hanya enggan. Aku akan tetap bertahan, setidaknya dipertemuan antara mataku dan pergantian malam, namamu selalu kudoakan. Maafkan aku. Jika tak lagi selalu ada. Menyambut hari² pentingmu. Yang jelas, aku selalu senang setiap tahu bahwa kamu dan keluargamu sehat.  Maafkan aku. Belum banyak mengirimkan banyak hadiah. Tapi yakinlah, bahwa itu bukan satu²nya simbolis tuk menandakan rasa sayangku. Semoga kabarmu baik² saja. Aku di sini sedang mencukupkan diri. Sedang memenuhi diri. Suatu saat, rasanya ingin kembali lagi bercengkrama seperti dulu. Jika masih diizinkan masuk.

The Filosofis Person

"Jangan ragu-ragu dan jangan menyesal." Oke,  akan aku catat. Suatu hari aku bertemu dengan seorang teman baru.  Sebut saja si Z. Kebetulan dia adalah laki2, karena aku juga pernah bertemu dengan perempuan yang sefrequensi dg dia. Dia adalah orang filosofis dan welcome banget terhadap jalan pikiranku dan selow dalam mengutarakan bagaimana dirinya.  Menurutku, orang sedominan dia jarang untuk bisa fleksibel dalam bertukar pikir dengan orang lain.  Dia lihai sekali menggali orang. Hahaha.  Dan aku mengagumi cara orang-orang seperti ini dalam mengetahui orang lain.  Karena dari situ mereka pandai banget memperlakukan dan memahami orang lain dengan baik. Itu bukan hal yang simpel,  karena butuh kepekaan dan kepedulian. Jarang sekali keberadaan mereka di bumi ini. Hahaha. Sekali lagi sedikit sekali orang yang seperti ini. Orang yang mampu membuatku bisa ngobrol panjang dan berjam-jam, padahal aku adalah orang yang jarang berbicara dan mengutarakan segala...