Langsung ke konten utama

Untuk yang Terakhir Kalinya

Untuk yang terakhir kalinya.
Sebelum aku benar benar akan pergi. Ketika kamu sudah mulai sulit mengingatku. Atau bahkan mulai enggan memanggil perasaanmu yang dulu.

Untuk yang terakhir kalinya.
Barangkali kamu akan bergerak menjauh atau mendekat.
Sebagai orang yang masih mencintaimu, kuingin memberitahu,
Bahwa perasaan-perasaan itu masih berada di dermaga yang sama. 
Sama persis.

Untuk yang terakhir kalinya.
Kuingin bilang padamu, bahwa kemarin aku menunggumu. Dan sekarang aku ingin pulang.

Besok, semoga kau menjemput orang yang tepat, tanpa membuat orang itu tau perasaanmu dan menunggu meski tanpa kau pinta. 

Untuk yang terakhir kalinya.
Sebagai orang yang pernah hidup dalam perasaanmu.
Tak bisakah kau bilang padaku?
Tentang apapun yang membuatku tenang, sebelum beranjak pergi.

Komentar

  1. "Realita perasaan seorang perempuan"..... kita bisa apa? haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baru liat balesan kamu. Hahaha, begitulah ya kira-kira salah satu realitanya :D

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Duhai, tahukah kamu?

Bahwa sebagian besar wanita itu pencemburu. Tidak penting nantinya 'kamu' dengan siapa. Yang terpenting adalah aku menyemogakan dirimu agar suatu saat nanti jika telah ada yang mendampingi, kau mengerti bagaimana cara menjaga hatinya. Duhai, pahamkah dirimu? Betapa tegarnya seorang wanita yang tersenyum Saat seorang yang dicintainya bercengkrama dengan 'teman'nya Saat seorang yang dicintainya menceritakan seorang perempuan selain ibunya Duhai, mau mengertikah kamu? Betapa teguhnya perasaan wanita Saat ia memahami, dirinya tak diperjuangkan Namun masih berusaha untuk menjaga hati Adamnya

Matematika Kehidupan

Sejak kecil sebelum rumus matematika semakin kompleks, kita dikenalkan lebih dulu dengan ping para lan suda (kali, bagi, tambah, kurang) Saat aku punya dua apel, apel itu akan habis pabila kubagikan kepada dua orang temenku. 2-2 = 0. Tapi. Sebentar. Bukankah 2-2=2? 2 dari mana? Dari pahala yang Allah berikan, insyaAllah Eh tapi jangan pakai rumus ini ya kalau lagi ngerjain soal matematika di sekolah.

Hai, Apa Kabar?

Hai, apa kabar yang sudah lama tak jumpa? Apa kabar yang sudah enggan menyapaku? Eh, atau aku yang enggan menyapa. Maafkan aku. Jika kamu rasa ada yang berbeda denganku. Bertahan atau pergi, adalah hak. Pun, aku takkan memaksamu bertahan, jika dirasa tidak nyaman. Di sebuah relasi yang membuatku asing, tak tau menau disaat yang lain diberi tau, sungguh membuatku jadi lebih enggan. Eh tapi itu hanya enggan. Aku akan tetap bertahan, setidaknya dipertemuan antara mataku dan pergantian malam, namamu selalu kudoakan. Maafkan aku. Jika tak lagi selalu ada. Menyambut hari² pentingmu. Yang jelas, aku selalu senang setiap tahu bahwa kamu dan keluargamu sehat.  Maafkan aku. Belum banyak mengirimkan banyak hadiah. Tapi yakinlah, bahwa itu bukan satu²nya simbolis tuk menandakan rasa sayangku. Semoga kabarmu baik² saja. Aku di sini sedang mencukupkan diri. Sedang memenuhi diri. Suatu saat, rasanya ingin kembali lagi bercengkrama seperti dulu. Jika masih diizinkan masuk.