Langsung ke konten utama

Ibu

Air mengalir dari hulu ke hilir
Mudik dan bermusim dalam naungan samudra
Saat hujan,
Ia teteskan segala keegoisan dan kepandiran dalam tanah
Berharap tiada lagi yang tersisa dan terbawa menuju muara baru

Dalam kekeringanku, ia selalu berusaha hadir
Namun awan terlalu  naif untuk mendung
Matahari merah merekah, dan tiada yang bisa menjadikannya ada, kecuali Yang Maha

Air mengalir dari hulu ke hilir,
Kutersingkap dalam doa sang ibu
Ia merayuNya tuk jadikan kepahitan dalam diriku tiada
Ia hadirkan senja buatannya tuk kunikmati dikala suka dan duka
Ia kirimkan ribuan kristal cinta yang singgah dalam dada,
Dalam pelukannya, air mengalir dari hulu ke hilir
Terisak haru nan syukur, menemukan muara yang tercipta dari Yang Esa
Surga tempat kuterlahir

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Bulan September

Rasa yang Menyiksa (gores pena: Galih Ratna Puri Palupi) Semua ini tentang cinta Tak jelas, namun menyesakkan dada Galau ingin bejumpa Rindu ingin bersua Namun bertemu memungkinkan aku tuk membungkam cerita Memilih diam menikmati alirannya Tapi dosa menjadi batasnya Hati pasrah menangis dibuatnya Semua tentang cinta Yang harus datang tepat pada waktunya Tapi tak kunjung diperjelaskan Mengundang harap dan tanya keraguan Terbersit dan mengalun di hati begitu saja Tak jelas kemana arahnya Pun tak memahami duka cita menjaga diri Ya, aku menjaganya Walau kering sudah kesabaran diri Untuk acuh dengan kabar tentangnya Ce i en te a Kau

Unfollow

Rasa-rasanya aku ingin sekali memencet tombol itu. Kemudian menitipkan nafasku kepada kamu yang didamba hadirnya Kepada kamu yang ingin lebih lama menjejak di bumi Rasa-rasanya aku ingin menekan tombol itu Lalu kutitipkan rasa cinta sepaket dengan ketulusannya, kesetiaan dan kesabaran menunggu.. Kepada ia yang kamu harapkan

Bebas

Untuk Dia yang Kuinginkan Gores pena: Galih Ratna Puri Palupi Di sudut dermaga Aku terjerembab dalam lembayung senja Erat dengan perahu-perahu yang lekat dengan jerat temalinya Di sudut, tempat ribuan kristal menyelinap dalam butiran pasir Tak sempat kunyatakan Tak mampu kuungkapkan Bunga-bunga hati yang menghiasi empunya Di kepalanya menjulur kain   hijau toska Tak pernah terlihat belaian demi belaian rambutnya Lembut ku lihat lengkungan senyumnya Membersamai bintang yang membias sinarnya Diantara samudera Di sudut dermaga Dia saksikan purnama dalam temaram Ditulis dengan pena kerinduannya Tuhan, pertemukan kami di SurgaMu -Surakarta, 21 Februari 2014-