Langsung ke konten utama

Tok tok tok

"Hffff..."

Pagi datang lagi. Emang kenapa kalau pagi datang lagi? Yups, beberapa bulan ini aku sedang ingin bersembunyi dari pagi dan ingin bertahan bersama malam. Meskipun pagi tidak akan mencariku, namun bersembunyi cukup menenangkan, meski pada akhirnya aku akan tetap melihatnya dengan pikiran yang teramat berat. Alarmku bukan lagi bersumber dari dering hanphone, tapi dari berbagai pertanyaan tentang beberapa job yang sedang diemban. Beraaaat. Iya, berat sekali. Kadang membuat sesuatu yang hadirnya bermaksud membahagiakan menjadi bertolak belakang. Kehilangan selera kebahagiaan. Kebahagiaan yang biasanya sederhana, menjadi seolah bersyarat. 

Pagi datang lagi. Huwaaaa~ siapkah? 
Ah lebay sih. Emang apa keistimewaan malam yang membuatmu ingin bertahan? Banyak harta karun di sana. Karena malam sepi, karena malam punya temaram, yang menerima kesendirianmu, yang tidak protes pabila kudiam sedari tadi, dan tidak pernah menyuruhku mengerjakan yang lain. 

Pagi datang lagi. 
Baiklah, karena hari ini adalah musabab dari segala bentuk pilihan di hari kemarin, aku akan memampukan untuk setidaknya bertanggungjawab membuka mata, hati, pikiran serta melangkah membukakan pintu untuknya. Aku telah memilih bagian dari dirimu untuk menjadi bagian dari diriku, dan aku akan bertanggungjawab dengan pilihan itu. Yaps, menuntaskan segala yang harus kutuntaskan. Mencabut hukuman semua orang yang telah menunggu. 

Pada akhirnya, beberapa hikmahnya adalah aku menemukan jawaban atas pertanyaanku sendiri perihal porsi kegiatan dan mungkin pekerjaan yang harus kutata kelak, untuk 'keluarga'. Setidaknya aku mengerti bahwa beban kerja yang sedang dirasa, sedikit berpengaruh pada sebuah relasi. Mana mungkin aku membiarkannya hadir di 'rumah' nanti? :)




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku mencintaimu karena Allah

Kepada teman baikku, semua tak terkecuali Satu hal yang sering kuimpi-impikan, melihat kita berkembang dan bertumbuh, membungkus perbekalan, hingga Allah SWT katakan cukup. Memerintah malaikat izrail tuk menjemput. Lalu impian selanjutnya untuk bertemu Rabb kita semakin dekat. Sesungguhnya, kuakui memang sulit meninggalkan cinta yang jadi fitrah kita. Sebagai aku yang tak pernah jauh dari perasaan itu, perlu proses panjang rasanya untuk tak ubahnya menasehati diri agar lebih sempurna dalam menyikapi cinta kepada makhluk. Pandai-pandai meluruskan niat dan mengembalikan segala kepadaNya. Pembuktian cinta kepada yang selalu mencintai kita tiada habisnya, sungguh panjang. Jangan pernah menyerah. Jangan pernah berhenti, meski harus merangkak.
Kulihat dari jauh, Matamu begitu sengit pada hujan Rintik demi rintik yang kau kira rindu itu, ternyata hanyalah pemudar senja Bibirmu bergerak, seakan mengeja ketakutan-ketakutan dalam diri Segenap keteguhanku seolah ingin menyambangimu Berbisik tentang gerangan yang tak kau relakan hilang "Tenanglah, Tuhan akan menjaga namamu dalam hatinya. Hujan takkan memudarkan namamu, ia akan membeningkan." Namun justru kau sendiri yang menjadi hujan dalam pikirmu. Memudarkannya.
Saringan Aku butuh saringan yang lebih lembut Agar lebih sedikit keburukan yang kulakukan Agar lebih mudah konsisten dengan hal-hal baik dan sesuai dengan ketentuanNya Untuk kuterapkan dalam hidupku