Langsung ke konten utama

Saat Cinta Tak Semudah Berkata Aku Cinta

Hal ini membuatku menjadi lebih baik. Meski pada kenyataannya diamkulah yang mampu menyapamu. Dan senyumku cukup menerima ketika lebih banyak orang yang lebih mampu membuatnu tertawa.


Sayangnya, mencintai tak sekedar itu, tak sekedar ingin membuatmu tertawa. Ada banyak hal yg lebih dari itu, lebih dari mengharapkan dia memiliki perasaan yang sama, lebih dari dia sesuai kriteria, lebih dan lebih dari itu.


Mencintai tidak hanya sekedar hubunganmu dengan dia.


Dan itu belum mampu meyakinkanku bahwa aku benar2 mencintaimu. Atau masih mencari alasan lain selain 'karena aku mencintaimu'.


Karena menyebut bahwa ini adalah cinta, itu bukan sesuatu yang mudah.


Yang mampu kuungkapkan ialah bahwa kamu sedang ada di dalam lubuk hatiku, kemarin hingga sekarang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Bulan September

Rasa yang Menyiksa (gores pena: Galih Ratna Puri Palupi) Semua ini tentang cinta Tak jelas, namun menyesakkan dada Galau ingin bejumpa Rindu ingin bersua Namun bertemu memungkinkan aku tuk membungkam cerita Memilih diam menikmati alirannya Tapi dosa menjadi batasnya Hati pasrah menangis dibuatnya Semua tentang cinta Yang harus datang tepat pada waktunya Tapi tak kunjung diperjelaskan Mengundang harap dan tanya keraguan Terbersit dan mengalun di hati begitu saja Tak jelas kemana arahnya Pun tak memahami duka cita menjaga diri Ya, aku menjaganya Walau kering sudah kesabaran diri Untuk acuh dengan kabar tentangnya Ce i en te a Kau

Unfollow

Rasa-rasanya aku ingin sekali memencet tombol itu. Kemudian menitipkan nafasku kepada kamu yang didamba hadirnya Kepada kamu yang ingin lebih lama menjejak di bumi Rasa-rasanya aku ingin menekan tombol itu Lalu kutitipkan rasa cinta sepaket dengan ketulusannya, kesetiaan dan kesabaran menunggu.. Kepada ia yang kamu harapkan

Bebas

Untuk Dia yang Kuinginkan Gores pena: Galih Ratna Puri Palupi Di sudut dermaga Aku terjerembab dalam lembayung senja Erat dengan perahu-perahu yang lekat dengan jerat temalinya Di sudut, tempat ribuan kristal menyelinap dalam butiran pasir Tak sempat kunyatakan Tak mampu kuungkapkan Bunga-bunga hati yang menghiasi empunya Di kepalanya menjulur kain   hijau toska Tak pernah terlihat belaian demi belaian rambutnya Lembut ku lihat lengkungan senyumnya Membersamai bintang yang membias sinarnya Diantara samudera Di sudut dermaga Dia saksikan purnama dalam temaram Ditulis dengan pena kerinduannya Tuhan, pertemukan kami di SurgaMu -Surakarta, 21 Februari 2014-