Langsung ke konten utama

Berpikir

Belakangan ini banyak hal yang terjadi dalam kehidupanku.
Dari banyak hal yang kualami itu, tentu saja ada yang menimbulkan penyesalan karena tanpa sadar memprotes perubahan orang lain yang jelas-jelas itu memang haknya. Aku sempat menyesal kala itu karena aku jarang melakukannya dan itu bukan tindakan yang baik. 
Dari banyak hal yang kualami juga ku mengantongi berbagai perspektif mengenai respon orang ketika menemui kebahagiaan, kenyamanan, juga banyak hal hingga dampak-dampaknya.

Oh, kadang kalau seseorang bahagia itu ada tiga hal yang jadi dampak, satu ikut kecipratan bahagia, dua ikut merasakan perubahan respon orang itu dan ketiganya adalah memposisikan diri untuk belajar dari yang dialami orang itu atau ambil hikmah. Begitupun dengan rasa sedih, rasa kecewa, rasa semangat, dan rasa lainnya. 

Dan pada intinya kutarik kesimpulan bahwa sebagian besar yang dilakukan orang lain adalah hasil dari keraguan-keraguannya. Tidak ada yang benar-benar yakin  dengan apa yang mereka lakukan. Buktinya, ada beberapa hal yang kemarin terjadi dan hari berikutnya sudah tak terjadi lagi. Ada yang berubah jadi lebih baik dan adapula yang sebaliknya.

Aku tidak menyalahkan siapapun atas apa yang terjadi disekelilingku. 
Hari ini kumemulai yoga 5-10 menit untuk membantuku konsentrasi dengan kehidupanku dan tidak melulu mengurusi hidup orang lain. Kurasa terlalu banyak urusan yang belum kuselesaikan. Terlepas dari ego, kumenyadari bahwa cara terbaik untuk mencampuri urusan orang lain adalah dengan mendoakannya agar urusan tersebut dimudahkan jalannya. 

Sungguh, aku tidak menyalahkan siapapun, pun pikiran-pikiranku yang belakangan ini ke mana-mana. Aku dan mereka adalah manusia biasa yang jauh dari sempurna. Kupaham betul mengapa Tuhan hadirkan cermin-cermin. Simpul-simpul yang sering melingkar dalam hidupku sering kukembalikan pada cermin. Setiap kumengatakan apapun kepada orang lain, kukembalikan pada diriku, apakah kekata itu patut kukatakan ataukah tidak patut kukatakan. Lalu aku tidak akan mengulanginya lagi jika kekata itu tidak pantas. Tanda tanya memang seberdampak itu terhadap berkembangnya sikap.

Banyak hal yang kupikirkan yang tak lepas dari bagaimana memanusiakan orang-orang disekitar kita? Atau bagaimana memanusiakan diri sendiri?

Kubanyak bicara pada sekian orang setahun belakangan ini. Diriku yang menyukai berelasi dengan orang lain, mendengarkan juga menceritakan muncul lepas. Apa yang menahanku tetiba saja pudar. Aku tau, Tuhan membantuku memudarkannya. 

Aku penasaran dengan banyak hal. Kubertanya-tanya tentang ukuran bahagia setiap orang. Dan masing-masing orang cenderung memiliki orientasi untuk orang lain. Ini hanyalah pendapat subjektif. Aku tidak tau apakah ketika sudah tidak ada orang lain lagi, seseorang akan tetap mengharuskan dirinya untuk bahagia atau tidak. Atau diam-diam mereka berkata kalau ukuran bahagia itu berorientasi untuk kenyamanannya dalam menjalani hidup.

Sekali lagi, aku tidak menyalahkan siapapun atas banyak hal yang berdampak pada diri ataupun tidak. 
Aku memilih untuk banyak belajar darinya :))

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Duhai, tahukah kamu?

Bahwa sebagian besar wanita itu pencemburu. Tidak penting nantinya 'kamu' dengan siapa. Yang terpenting adalah aku menyemogakan dirimu agar suatu saat nanti jika telah ada yang mendampingi, kau mengerti bagaimana cara menjaga hatinya. Duhai, pahamkah dirimu? Betapa tegarnya seorang wanita yang tersenyum Saat seorang yang dicintainya bercengkrama dengan 'teman'nya Saat seorang yang dicintainya menceritakan seorang perempuan selain ibunya Duhai, mau mengertikah kamu? Betapa teguhnya perasaan wanita Saat ia memahami, dirinya tak diperjuangkan Namun masih berusaha untuk menjaga hati Adamnya

Matematika Kehidupan

Sejak kecil sebelum rumus matematika semakin kompleks, kita dikenalkan lebih dulu dengan ping para lan suda (kali, bagi, tambah, kurang) Saat aku punya dua apel, apel itu akan habis pabila kubagikan kepada dua orang temenku. 2-2 = 0. Tapi. Sebentar. Bukankah 2-2=2? 2 dari mana? Dari pahala yang Allah berikan, insyaAllah Eh tapi jangan pakai rumus ini ya kalau lagi ngerjain soal matematika di sekolah.

Hai, Apa Kabar?

Hai, apa kabar yang sudah lama tak jumpa? Apa kabar yang sudah enggan menyapaku? Eh, atau aku yang enggan menyapa. Maafkan aku. Jika kamu rasa ada yang berbeda denganku. Bertahan atau pergi, adalah hak. Pun, aku takkan memaksamu bertahan, jika dirasa tidak nyaman. Di sebuah relasi yang membuatku asing, tak tau menau disaat yang lain diberi tau, sungguh membuatku jadi lebih enggan. Eh tapi itu hanya enggan. Aku akan tetap bertahan, setidaknya dipertemuan antara mataku dan pergantian malam, namamu selalu kudoakan. Maafkan aku. Jika tak lagi selalu ada. Menyambut hari² pentingmu. Yang jelas, aku selalu senang setiap tahu bahwa kamu dan keluargamu sehat.  Maafkan aku. Belum banyak mengirimkan banyak hadiah. Tapi yakinlah, bahwa itu bukan satu²nya simbolis tuk menandakan rasa sayangku. Semoga kabarmu baik² saja. Aku di sini sedang mencukupkan diri. Sedang memenuhi diri. Suatu saat, rasanya ingin kembali lagi bercengkrama seperti dulu. Jika masih diizinkan masuk.