Langsung ke konten utama

Bilang Pada Dirimu

 

Bilang pada dirimu sendiri, 
Bahwa bergantung amatlah susah
Mandiri tak kan gelisah

Jadi,bilang pada dirimu sendiri,
"Dia bukan teddy bear di kamarmu yang dengan bebas kamu peluk"
"Dia bukan teddy bear di kosanmu yang selalu tenang mendengar ceritamu"

Oke? Dia bukan teddy milikmu
Dia bukan teddy yang diserahkan oleh sahabatmu
Dia bukan teddy yang SUDAH diserahkan padamu
Dia bukan teddy yang kini tlah menjadi hakmu

Dia bukan milikmu sekarang ini
Mungkin bukan selalu milikmu suatu saat nanti
Yang terjelas dia adalah milik Allah
Dan Allah belum menyerahkannya padamu

So plis bangeeeeeeet~
Bilang pada dirimu,
Kalau dia dan kamu adalah sama-sama milikNya
Kau tak punya wewenang penuh atas hatimu
Apalagi hatinya

So plis banget, 
Duduk
Dan lakukanlah remidial

Ya, anggap saja nilai ujian kamu itu NOL BESAAAR!

Dan kamu harus remidi, sekarang juga!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Bulan September

Rasa yang Menyiksa (gores pena: Galih Ratna Puri Palupi) Semua ini tentang cinta Tak jelas, namun menyesakkan dada Galau ingin bejumpa Rindu ingin bersua Namun bertemu memungkinkan aku tuk membungkam cerita Memilih diam menikmati alirannya Tapi dosa menjadi batasnya Hati pasrah menangis dibuatnya Semua tentang cinta Yang harus datang tepat pada waktunya Tapi tak kunjung diperjelaskan Mengundang harap dan tanya keraguan Terbersit dan mengalun di hati begitu saja Tak jelas kemana arahnya Pun tak memahami duka cita menjaga diri Ya, aku menjaganya Walau kering sudah kesabaran diri Untuk acuh dengan kabar tentangnya Ce i en te a Kau

Unfollow

Rasa-rasanya aku ingin sekali memencet tombol itu. Kemudian menitipkan nafasku kepada kamu yang didamba hadirnya Kepada kamu yang ingin lebih lama menjejak di bumi Rasa-rasanya aku ingin menekan tombol itu Lalu kutitipkan rasa cinta sepaket dengan ketulusannya, kesetiaan dan kesabaran menunggu.. Kepada ia yang kamu harapkan

Bebas

Untuk Dia yang Kuinginkan Gores pena: Galih Ratna Puri Palupi Di sudut dermaga Aku terjerembab dalam lembayung senja Erat dengan perahu-perahu yang lekat dengan jerat temalinya Di sudut, tempat ribuan kristal menyelinap dalam butiran pasir Tak sempat kunyatakan Tak mampu kuungkapkan Bunga-bunga hati yang menghiasi empunya Di kepalanya menjulur kain   hijau toska Tak pernah terlihat belaian demi belaian rambutnya Lembut ku lihat lengkungan senyumnya Membersamai bintang yang membias sinarnya Diantara samudera Di sudut dermaga Dia saksikan purnama dalam temaram Ditulis dengan pena kerinduannya Tuhan, pertemukan kami di SurgaMu -Surakarta, 21 Februari 2014-