Langsung ke konten utama

Postingan

Mengapa aku?

Kemarin aku bertanya-tanya. "Mengapa aku yang dipindah? Mengapa dia tidak?" Hari itu hujan hampir kuterobos setiap hari. Aku tidak bertanya kepada siapapun kecuali Tuhan. Aku tidak mengeluh kesakitan, kecuali kepada Tuhan. Tuhan, mengapa aku? atau terkadang Tuhan, mengapa bukan aku? Aku bertanya berulang kali. Tuhan, mengapa aku? atau terkadang  Tuhan, mengapa bukan aku? Dan Tuhan selalu memberikan satu jawaban yang indah. Sejak mengajukan pertanyaan itu hingga mendapatkan jawabannya, aku belajar banyak hal.  Satu hal yang paling berharga saat ini adalah  . . . . . . (rahasia)

Kamu memang Luar Biasa. Kalau Aku?

Seperti hari-hari biasanya. Hari ini berjalan biasa saja. Karena hari ini tidak mendung dan juga tidak hujan. Kurasa begitu. Tapi hari ini aku melihat seseorang mengembangkan payung di sore hari yang cerah. Sungguh cerah. Aku menatapnya dari jauh. Sepertinya orang itu sadar dengan tatapanku Kakinya melangkah ke arahku, "Hai!" sapanya kepadaku. "Aku sedang berteduh dari hari yang biasa-biasa saja :)" tambah orang itu

Lupa?

Pada hari yang biasa Aku melihat sebuah asa Jatuh di keramaian jalan Tepat di tengah zebra cross "Itu punya saya." kata seseorang yang sedari tadi tertawa di samping kananku (aku tidak mengenalnya) "Bukan, itu punya saya." kata seorang perempuan di samping kiriku. Jadi itu asa siapa?  "Aku adalah milikmu." tetiba asa itu bicara kepadaku. Lalu asa mereka ke mana?

Dengan Penuh Rasa Terimakasih (Syukur)

Sebenarnya aku ingin menjaganya sejak lama. Membiarkan cawang-cawang itu menempel di dinding merah jambu. Biarku bersihkan di sepertiga malam. Biar ia tahan dinginnya. Aku rasa aku memang ingin menjaganya. Tapi jeruji-jeruji itu ternyata belum cukup kuat. Sebagian keluar dari penjagaan, mereka menemukan tempat. Tuhan mungkin mengijabah doaku. Tentang seseorang yang telah membuatku jatuh cinta. Seseorang yang awalnya ingin kulepas saja, dan membiarkan Tuhan yang memberi kebijakan. Iya, aku ingin melepasnya sejak lama, namun tidak tahu caranya. Kemudian, ada pilihan lain yang menurutku lebih baik daripada melepas, yaitu memperjuangkan. Ia memperjuangkannya. Bukan berarti tidak menyerahkan segala kebijakan kepada Tuhan, tetap.  Dan hanya Tuhan yang tau bagaimana hal itu terjadi.  Sayangnya aku tidak tau, bagaimana dengannya. Apakah jika seseorang itu mencintai akan memilih untuk Melepas atau Memperjuangkan? Aku tidak tau dan enggan mencari tau. Esok itu.  ...