Langsung ke konten utama

Postingan

Mencintai Kehilangan

berjalan.. berlari.. hati tertindih.. sulit tapi harus aku putuskan jalanmu.. jalanku.. belum sempurna.. biar masa depan yang sempurnakan suara-suara batinku melepaskanmu lirih-lirih jiwaku membasuh pilu takdir yang Kau beri menguji hatiku terasa menyesakkan kehilangan ini.. tangis yang Kau beri membuka mataku bahwa cinta yang sebenar cinta hanya ada SATU karena kehilangan ini ku mampu mendekat kepadaMu daun terjatuh di hadapanku belajar menerima belajar menerima semuanya  -Lagu-

Bermusimlah, Kau Pantas Kuperjuangkan!

saat keadaan hanyalah sebuah surat yang tertutup rapat tak terbaca tanpa balasan apa yang harus dirindukan? ketika langkah tak searah dengan tujuan apa yang harus di jelaskan? saat pintunya tertutup, dan kau tak punya kuncinya apa yang membuatmu memaksakan diri untuk masuk? Saat ternyata kau menyadari bahwa tak ada perahu lain yang tiba di dermagamu maka kenapa kau harus merelakan? maka kenapa kau harus mengikhlaskan? terlepas dari ketahuanmu tentang kekukuhan kapal itu terlepas dari kesanggupan kapal itu membawamu entah kemana inginmu Allah selalu mendengar doamu, duhai kamu

Jantung

Bertumpuk daun - daun waru dari duabelas bulan yang lalu Berlimpah ruah harapan-harapan baik Dan berbunga tanpa melayu Aku tuannya Aku empunya Aku yang menyimpannya Aku pula yang meneduhkannya dari terik yang kan melayukan Bertumpuk-tumpuk daun Melingkar menyerupa jantung Tapi ia masih mati Tapi ia belum bernyawa Dan aku selalu menunggu dia Ya, selalu menunggu dia Semoga dialah yang akan menghidupkannya

Untuk yang Selalu Rela, Merelakan

Awan tak meminta pelangi dari hujan Ia merasa cukup, bertahan dengan harapannya agar tetap putih Bertahan dengan impiannya agar tetap cerah Sayangnya, ia tetap luluh hati Ketika telinganya mendengar ribuan umat meminta aliran air dari dirinya Dia mendengar dan merapuhkan harapannya Namun, Kulihat dia tetap tersenyum dan bahagia Baik-baik saja Tak ada muram pun suram Ah, mungkin ia memendam dan menguburnya dalam-dalam Pada akhirnya kerelaan menjadikannya mendung  Awan yang menghitam Menutupi langit-langit bumi cinta Air matanya menetes deras Ia tak cukup keras mempertahankan harapannya Matanya berlinang dan terus tertutup matanya takut Takut melihat dirinya sendiri Jika aku bintang aku akan datang menyinarinya   Jika aku mentari, aku akan datang menghangatkannya Jika aku bulan, aku akan datang menenangkannya Pun jika aku berkumpul menjadi kami Kami akan berbisik dan membuka pintu hatinya: Bukalah matamu, lihat segala aliran air yang jatuh dari kerel...

Coba Nyatakan

Aku tak sanggup berkata lebih dari kemampuan yang akan kunyatakan. Atau aku hanya merasa tak rela jika kenyataan mengkhianati kata demi kata kata demi kata yang bermenit-menit lamanya tlah menjadi alinea "mimpi" atau hal yang tak realistis Aku tak sanggup pula menunggu segala kalimatmu hingga ke titiknya. Aku tak sanggup menjadi saksi omong kosongmu.