Langsung ke konten utama

Hak: Sepotong Hati

"Aku ingin kau menerima seluruh hatiku."
"Aku ingin kau mengerti di jiwaku hanya kamu. Namun jika kau tak bisa menerima aku. Lebih baik, ku hidup tanpa cinta."
-potongan lirik lagu "Tanpa Cinta", Yovie n Nuno.


Terkesannya berlebihan. Terkesannya mengharapkan. Terkesannya memang "dia" jodohnya.
Terkesannya dialah pemilik rasa yang sama.
Terkesannya tiada napas yang lebih berarti selain teriring namanya.
Terkesannya diri tidak layak tuk diperjuangkan, maka harus memperjuangkan.
Terkesannya ingin selalu mengungkapkan.
Tapi, memang itu sebagian yang dirasakan pemuda/i yang sedang jatuh cinta.


Berkecamuk rasa ingin bertemu, bersua, dan bercerita dalam dada.
Deras tanda tanya rasa yang sama mengalir di dalam nadi.
Merdu suara lagu cinta didengar seolah menjadi soundtrack kisahmu dengan dia.
Tapi memang itu rasa yang ada.
Mungkin cara orang memaknainya yang membuat semua rasanya berbeda.
Ada yang dengan mudahnya langsung mengungkapkan.
Ada yang dengan malu-malu menyimpannya
Ada yang menutupinya.


Adapula aku, yang selalu mendoakannya, dengan siapapun hatinya akan berlabuh.
Karena aku yakin, doalah sebaik-baiknya ungkapan cinta :). Betapa indahnya, jika tanganNya yang menggandengkan, menakdirkan, dan mempertemukan pada waktunya.
Atau kamu, yang menyerah, tuk melupakan.


Semua telah menjadi hak setiap hati ♥.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Bulan September

Rasa yang Menyiksa (gores pena: Galih Ratna Puri Palupi) Semua ini tentang cinta Tak jelas, namun menyesakkan dada Galau ingin bejumpa Rindu ingin bersua Namun bertemu memungkinkan aku tuk membungkam cerita Memilih diam menikmati alirannya Tapi dosa menjadi batasnya Hati pasrah menangis dibuatnya Semua tentang cinta Yang harus datang tepat pada waktunya Tapi tak kunjung diperjelaskan Mengundang harap dan tanya keraguan Terbersit dan mengalun di hati begitu saja Tak jelas kemana arahnya Pun tak memahami duka cita menjaga diri Ya, aku menjaganya Walau kering sudah kesabaran diri Untuk acuh dengan kabar tentangnya Ce i en te a Kau

Unfollow

Rasa-rasanya aku ingin sekali memencet tombol itu. Kemudian menitipkan nafasku kepada kamu yang didamba hadirnya Kepada kamu yang ingin lebih lama menjejak di bumi Rasa-rasanya aku ingin menekan tombol itu Lalu kutitipkan rasa cinta sepaket dengan ketulusannya, kesetiaan dan kesabaran menunggu.. Kepada ia yang kamu harapkan

Bebas

Untuk Dia yang Kuinginkan Gores pena: Galih Ratna Puri Palupi Di sudut dermaga Aku terjerembab dalam lembayung senja Erat dengan perahu-perahu yang lekat dengan jerat temalinya Di sudut, tempat ribuan kristal menyelinap dalam butiran pasir Tak sempat kunyatakan Tak mampu kuungkapkan Bunga-bunga hati yang menghiasi empunya Di kepalanya menjulur kain   hijau toska Tak pernah terlihat belaian demi belaian rambutnya Lembut ku lihat lengkungan senyumnya Membersamai bintang yang membias sinarnya Diantara samudera Di sudut dermaga Dia saksikan purnama dalam temaram Ditulis dengan pena kerinduannya Tuhan, pertemukan kami di SurgaMu -Surakarta, 21 Februari 2014-